![]() | ||||
| Add caption |
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseling merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Teknik konseling adalah cara-cara tertentu yang digunakan
oleh seorang konselor dalam proses konseling untuk membantu klien agar
berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan
kondisi- kondisi di lingkungannya yakni nilai- nilai sosial, budaya, dan agama.
Bagi seorang konselor, menguasai teknik- teknik
konseling merupakan suatu keniscayaan. Dalam proses konseling, penguasaan
terhadap teknik konseling merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan
konseling. Seorang konselor yang efektif harus mampu merespons klien secara
baik dan benar sesuai keadaan klien saat itu. Respons yang baik berupa
pertanyaan- pertanyaan verbal dan non verbal yang dapat menyentuh, merangsang,
dan mendorong sehingga klien terbuka untuk menyatakan secara bebas perasaan,
pikiran, dan pengalamannya (Sopyan, S. Wilis, 2004: 157).
Sebagai suatu proses, implementasi teknik-
teknik konseling akan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap- tahap tersebut
adalah:
1. Persiapan
konseling
Pada tahap ini, ada tiga hal yang harus
dilakukan oleh konselor untuk memulai proses konseling yaitu, membentuk
kesiapan untuk konseling, memperoleh riwayat kasus, dan evaluasi
psikodiagnostik.
a. Kesiapan untuk konseling
Untuk dapat melakukan konseling secara efektif
dan agar konseling berhasil dan berdaya guna, konselor harus melakukan
persiapan. Begitu juga klien, agar dapar berpartisipasi secara aktif sesuai
tuntutan konseling, harus siap untuk mengikuti konseling. Tanpa partisipasi
dari klien atau tanpa kesiapan klien, proses konseling bisa gagal.
Hal- hal yang berkenaan dengan kesiapan
konseling terutama yang berhubungan dengan klien adalah:
1) memotivasi klien untuk memperoleh bantuan
2) pengetahuan klien tentang konseling
3) kecakapan intelektual
4) tingkat tilikan terhadap masalah dan
dirinya sendiri
5) harapan- harapan terhadap peran konselor
6) sistem pertahanan diri
Motivasi klien untuk memperoleh bantuan akan
menentukan jalannya proses konseling. Klien yang mengikuti sesi konseling
karena mengikuti keinginan guru wali kelas atau orang lain termasuk konselornya
sendiri (terpaksa), akan berbeda partisipasinya dalam konseling jika motivasi
mereka benar- benar ingin memperoleh bantuan. Begitu pun klien yang mengetahui
tentang konseling. Klien yang tidak mengetahui tentang konseling, ia tidak akan
maksimal memanfaatkan jasa konselor.
Dalam proses konseling harus ada respons-respons
tertentu dari klien. Klien yang kemampuan intelektualnya rendah, akan sulit
merespons proses konseling. Ada klien yang mampu melihat masalahnya sendiri dan
ada yang tidak. Klien yang mampu melihat masalahnya sendiri, akan mampu
berpartisipasi secara aktif dalam konseling sehingga proses konseling akan
berjalan secara lancar. Sebaliknya, klien yang tidak mampu melihat masalahnya
sendiri, akan sulit untuk berpartisipasi dalam proses konseling. Klien yang
banyak berharap dan mengerti peran- peran konselor, ia akan memanfaatkan jasa
konselor secara maksimal, sebaliknya yang tidak mengerti tentang peran- peran
konselor, maka ia tidak akan banyak berharap bahwa konselor dapat membantunya
untuk memecahkan masalah.
Agar klien siap dalam mengikuti konseling,
disarankan kepada konselor agar melakukan hal- hal berikut:
1) memulai pembicaraan dengan berbagai pihak
tentang berbagai topik masalah dan pelayanan konseling yang diberikan,
2) menciptakan iklim kelembagaan yang
kondusif sehingga merangsang siswa untuk memperoleh bantuan,
3) menghubungi sumber- sumber referal
(rujukan) misalnya dari organisasi dan sekolah,
4) memberikan informasi kepada klien tentang
dirinya dan prospeknya,
5) melalui proses pendidikan itu sendiri, dan
6) melakukan orientasi pra konseling.
b. Riwayat kasus
Riwayat kasus adalah suatu kumpulan fakta yang
sistematis tentang kehidupan klien sekarang dan masa lalu. Secara sederhana
riwayat kasus bisa dikatakan melakukan identifikasi terhadap masalah- masalah
yang dialami klien. Menurut Surya (1988: 160), riwayat kasus dapat dibuat dalam
bentuk:
1) Riwayat konseling psikoterapeutik, yang
lebih memusatkan pada masalah- masalah psikoterapeutik dan diperoleh melalui
wawancara konseling,
2) Catatan komulatif (commulative record),
yaitu suatu catatan tentang berbagai aspek yang menggambarkan perkembangan
seseorang,
3) Biografi dan autobiografi,
4) Tulisan- tulisan yang dibuat sendiri oleh
siswa yang berkasus sebagai dokumen pribadi (mungkin dalam bentuk catatan
anekdot),
5) Grafik waktu tentang kehidupan siswa yang
berkasus.
c. Evaluasi
psikodiagnostik
Dalam bidang medis, diagnosis diartikan sebagai
suatu proses memeriksa gejala, memperkirakan sebab- sebab, mengadakan
observasi, menempatkan gejala dalam kategori, dan memperkirakan usaha- usaha
penyembuhannya. Dalam bidang psikologis, proses diagnosis mempunyai beberapa
arti dan sulit dipisahkan secara tegas sebagaiman halnya dalam bidang medis.
Secara umum diagnosis dalam bidang psikologis berarti pernyataan tentang
masalah klien, perkiraan sebab- sebab kesulitan, kemungkinan teknik- teknik
konseling untuk memcahkan masalah, dan memperkirakan hasil konseling dalam
bentuk tingkah laku klien di masa yang akan datang. (Surya, 1988: 162)
Selanjutnya menurut Surya (1988) psikodiagnostik mempunyai dua arti yaitu, pertama
sebagai suatu klasifikasI deskriptif masalah- masalah yang sama dengan
klasifikasi psikiatris untuk gangguan neurosis, psikosis, dan karakter yang
selanjutnya disebut diagnosis diferensial. Kedua, psikodiagnosis sebagai suatu
prosedur menginterpretasikan data kasus, yang selanjutnya disebut diagnosis
struktural.
Penggunaan tes psikodiagnosis dalam konseling berfungsi untuk:
1) menyeleksi data
yang diperlikan bagi konseling
2) meramalkan
keberhasilan konseling
3) memperoleh
informasi yang lebih terinci
4) merumuskan
diagnostic yang lebih tepat
Dalam proses konseling memerlukan teknik- teknik
tertentu sehingga konseling bisa berjalan secara efektif dan efisien atau
berdaya guna dan berhasil guna. Adapun
Teknik dalam konseling
1) Teknik rapport
Teknik rapport dalam
konseling merupakan suatu kondisi saling memahami dan mengenal tujuan bersama.
Tujuan utama teknik ini adalah untuk menjambatani hubungan antara konsleor
dengan klien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan
masalahnya. Implementasi teknik ini dalam konseling adalah:
a)
pemberian salam yang menyenangkan
b)
menetapkan topik pembicaraan yang sesuai
c)
susunan ruang konseling yang menyenangkan
d) sikap yang ditandai dengan: kehangatan
emosi, realisasi tujuan bersama, dan menjamin kerahasiaan klien
e)
kesadaran terhadap hakekat klien secara alamiah
2) Perilaku attending
Attending merupakan upaya konselor menghampiri klien yang diwujudkan dalam bentuk
perilaku seperti kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan.
Perilaku attending berkenaan dengan teknik penerimaan konselor
terhadap klien. Teknik penerimaan menggambarkan cara bagaimana konselor
menerima klien dalam proses atau sesi konseling. Atau cara bagaimana konselor bertindak agar klien
merasa diterima dalam proses konseling. Teknik ini dalam proses konseling bisa
diwujudkan melalui ekspresi wajah (misalnya ceria atau cemberut). Selanjutnya
juga bisa diwujudkan dalam bentuk tekanan atau nada suara dari konselor
(tinggi, mendatar, rendah) dan jarak duduk antara konselor dan klien.
3)
Teknik structuring
Structuring adalah proses
penetapan batasan oleh konselor tentang hakikat, batas- batas, dan tujuan
proses konseling pada umumnya dan hubungan tertentu pada khususnya. Structuring
memberikan kerangka kerja atau orientasi terapi kepada klien. Structuring
ada yang bersifat implisit di mana secara umum peranan konselor diketahui oleh
klien dan ada yang bersifat formal berupa pernyataan konselor untuk menjelaskan
dan membatasai proses konseling.
4)
Empati
Empati merupakan kemampuan
konselor untuk merasakan apa yang dirasakan oleh klien, merasa dan berpikir
bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan
bersamaan dengan attending, karena tanpa attending tidak akan ada
empati.
5)
Refleksi perasaan
Refleksi perasaan merupakan suatu usaha
konselor untuk menyatakan dalam bentuk katap- kata yang segar dan sikap yang
diperlukan terhadap klien. Refleksi perasaan juga merupakan teknik penengah yang bermanfaat untuk digunakan setelah
hubungan permulaan (tahap awal konseling) dilakukan dan sebelum pemberian
informasi serta tahap interpretasi dimulai.
6) Teknik eksplorasi
Eksplorasi merupakan keterampilan konselor untuk menggali perasaan,
pengalaman, dan pikiran klien.
Eksplorasi ada tiga
macam yaitu, eksplorasi perasaan, eksplorasi pikiran, dan eksplorasi pengalaman.
7)
Teknik paraphrasing (menangkap pesan utama)
Tujuan paraphrase antara
lain adalah mengatakan kembali esensi atau inti ungkapan klien, untuk
mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk
memahami apa yang dikatakan klien, mengendapkan apa yang dikemukakan klien
dalam bentuk ringkasan, memberi arah wawancara konseling, mengecek kembali
persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.
8)
Teknik bertanya
Teknik bertanya ada
dua macam yaitu bertanya terbuka (open question) dan bertanya tertutup (closed
question).
9)
Dorongan minimal (minimal encouragement)
Dorongan minimal yaitu
suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikatakan klien.
10) Interpretasi
Interpretasi merupakan
upaya konselor mengulas pikiran, perasaan, dan perilaku atau pengalaman klien berdasarkan
atas teori- teori tertentu. Tujuannya adalah untuk memberikan rujukan,
pandangan atau tingkah laku klien, agar klien mengerti dan berubah melalui
pemahaman dari hasil rujukan baru.
11)
Teknik mengarahkan (directing)
12)
Teknik menyimpulkan sementara (summarizing)
Tujuan dari
teknik ini adalah memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas
balik (feed back) dari hal- hal yang telah dibicarakan bersama konselor,
untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, untuk meningkatkan
kualitas diskusi, mempertajam atau memperjelas fokus atau arah wawancara
konseling.
13)
Teknik- teknik memimpin
Memimpin dalam
konseling bisa memiliki dua arti, pertama menunjukkan keadaan di mana
konselor berada di dalam atau di luar pikiran klien. Kedua, keadaan di
mana konselor mengarahkan pikiran klien kepada penerimaan perkataan konselor.
Teknik ini bertujuan
agar pembicaraan klien tidak menyimpang dari fokus yang dibicarakan dan agar
arah pembicaraan terfokus pada tujuan konseling.
14) Teknik
fokus
Fokus akan membantu
klien untuk memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan. Ada empat fokus
dalam konseling, pertama fokus pada diri klien. Kedua, fokus pada
orang lain. Ketiga, fokus pada topik. Keempat, fokus mengenai
budaya.
15)
Teknik konfrontasi
Dalam konseling
dikenal juga dengan “memperhadapkan”. Teknik konfrontasi adalah suatu teknik
yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi (tidak konsisten)
antara perkataan dengan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan
kepedihan. Tujuannya adalah mendorong klien untuk mengadakan penelitian diri
secara jujur (introspeksi diri secara jujur), meningkatkan potensi klien,
membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi (kondisi pertentangan antara
harapan seseorang dengan kondisi nyata di lingkungan) dari klien dengan,
inkonsistensi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
16)
Penjernihan (Clarifying)
Tujuannya adalah pertama
mengundang klien untuk menyatakan pesanya secara jelas, ungkapan kata- kata
yang tegas, dan dengan alasan- alasan yang logis. Kedua, agar klien
menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.
17)
Memudahkan (Fasilitating)
Fasilitating adalah suatu teknik
membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan
menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas.
18) Diam sebagai suatu teknik
Diam dalam konseling
bisa dijadikan sebagai suatu teknik. Dalam konseling, diam bukan berarti tidak
ada komunikasi. Komunikasi tetap ada, yaitu melalui perilaku non verbal.
Dalam konseling, diam
bisa memiliki beberapa makna, pertama penolakan atau kebingungan klien. Kedua,
klien atau konselor telah mencapai akhir suatu ide dan ragu mengatakan apa
selanjutnya. Ketiga, kebingungan yang didorong oleh kecemasan atau
kebencian. Keempat, klien mengalami perasaan sakit dan tidak siap untuk
berbicara. Kelima, klien mengharapkan sesuatu dari konselor. Keenam,
klien sedang memikirkan apa yang dikatakan. Ketujuh, klien baru
menyadari kembali dan ekspresi emosional sebelumnya (Surya, 1988: 165).
Tujuan teknik ini
adalah menanti klien yang sedang berpikir, sebagai protes apabila klien
berbicara berbelit- belit (nglantur), menunjang perilaku attending dan empati sehingga
klien bebas berbicara (Surya, 1988: 165).
19)
Mengambil inisiatif
Teknik ini diterapkan
apabila: (1) untuk mengambil inisiatif apabila klien kurang bersemangat, (2)
klien lambat berpikir untuk mengambil keputusan, dan (3) klien kehilangan arah
pembicaraan.
20)
Memberi nasihat
21)
Pemberian informasi
22)
Merencanakan
Rencana yang baik
harus merupakan hasil kerja sama antara konselor dengan klien.
23)
Menyimpulkan
Pada akhir sesi
konseling, bersama klien konselor membuat suatu kesimpulan.
24)
Teknik mengakhiri
Untuk mengakhiri sesi
konseling, dapat dilakukan konselor dengan cara: (1) mengatakan bahwa waktu
sudah habis, (2) merangkum isi pembicaraan, (3) menunjukkan kepada pertemuan
yang akan datang (menetapkan jadwal pertemuan sesi berikutnya), (4) mengajak
klien berdiri dengan isyarat gerak tangan, (5) menunjukkan catatan- catatan
singkat hasil pembicaraan konseling, (6) memberikan tugas- tugas tertentu
kepada klien yang relevan dengan pokok pembicaraan apabila diperlukan.
Sumber : Bimo walgito bimbingan dan konseling di
perguruan tinggi. Yayasan penerbitan fakultas psikologi UGM Yokyakarta.
1982. hal: 96
Teknik dan Keterampilan dalam Konseling 3 M
(Mendengarkan, Memahami, dan Merespons)
Konseling
merupakan dasar inti bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi
perkembangan individu. Konseling merupakan suatu hubungan antara pemberi bantuan yang terlatih dengan
seorang yang mencari bantuan, dimana keterampilan
pemberi bantuan dan suasana yang dibuatnya membantu orang lain belajar untuk
berhubungan dengan dirinya sendiri atau orang lain.
Konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan
professional dan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, seorang
konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam
menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Tanpa didukung oleh
penguasaan-penguasaan teknik-teknik konseling bisa terjadi bantuan yang
diberikan kepada klien tidak akan berjalan efektif.
Pengertian
3 M
I.
Mendengarkan (Efective listening)
Mendengarkan yang perlu diperhatikan
dalam mendengarkan terhadap pembicaraan konseli adalah mendengarkan dan
memahami seluruh pesan – pesan konseli, memelihara perhatian yang terpusat pada
konseli, serta mengarahkan diri terhadap apa yang telah dinyatakan oleh konseli.
1. Dengan kemampuan EL konselor, klien dapat mengekpressikan apa yang harus
diekspreskannya baik melalui kata, perasaan dan tingkah laku
2.EL bukan
sikap diam sambil memikirkan advis yang akan diberikan
3.EL =
pemakaian untuk menangkap :
• Kata-kata yang
diucapkan konseli.
• Perasaan dibalik
kata-kata konseli.
• Ekspressi wajah dan
tingkah laku konseli.
• EL
= diciplin listening , karena EL tidak hanya melibatkan sikap
mendengarkan.
• Kesadaran
dan sensitivitas konselor terhadap sikapnya sendiri yakni sikap mendorong konselor
untuk mendorong konseli mengekspresi kata-kata, perasaan secara wajar.
• Kemampuan
untuk menangkap inti kata-kata yang diucapkan Konseli secara obyektif.
• Kemampunan
konselor menahan diri dari dorongan untuk berkata - kata lebih
banyak/sebelum waktunya.
II. Memahami ( Understanding)
Kemampuan memahami harus didukung oleh :
1. Empati : sikap positif konselor terhadap konseli, yang diekspresikan
melalui kesediaan untuk menempatkan diri pada tempat Konseli, merasakan apa
yang dirasakan konseli dan mengerti dengan pengertian konseli.
Faktor penghambat empati :
- Pikiran yang terikat pada teori/teknik konseling yang akan dipakai
- Terlalu cepat memikirkan pemecahan persoalan konseli
- Kecemasan yang mematikan perasaan konseli dan konseli
2.Sikap menerima ( acceptance) Sikap menerima adalah kesediaan Konselor
untuk menerima keberadaan Konselee sebagaimana adanya.
- Non judgmental
- Menempatkan hal-hal negatif pada konteks yang tepat
- Bukan sikap membenarkan atau mentralisir
III.Merespon ( Responding)
Memberikan respon yang baik dan positif,
respon konselor dikatakan tepat dan positif bila:
- Bahasanya jelas, singkat dan tepat
- Tidak memakai kata-kata “ tapi” , “namun” karena dapat melemahkan posisi konseli
Dengan respon tepat dan positif Konseli menjadi :
- Menerima respon dengan baik
- Berdampak positif pada konseli
Respon yang tepat dan positif akan menciptakan suasana yang kondusif dengan
:
- Warmth ( kehangatan )
- Support ( dukungan )
- Genuineness ( kemurnian )
- Stimulating ( menstimulir )
CIRI-CIRI RESPON YANG TEPAT
DAN POSITIF
- Menjadikan klien senang sehingga dapat mendorongnya untuk berbicara lebih banyak tentang masalahnya & dapat membantu klien mendalami perasaan dan fikiran yang berhubungan dengan masalahnya
- Dapat mengarahkan klien untuk mengubah sikap, pandangan, kebiasaan dan tingkah laku yang menyebabkan timbulnya masalah
C. Cara Pelaksanaan
Terkait dengan
pelaksanaan konseling 3 M ( mendengarkan, memahami dan merespon ) konselor saat
sedang bersama konseli, cobalah diingat bahwa konseli telah memutuskan untuk
berbicara pada konselor dan ingin bebas mencurahkan segala hal yang sedang
meresahkan diri mereka. Untuk bisa melakukan hal ini, mereka membutuhkan sebuah
permintaan dan kesempatan untuk berbicara tanpa penyelaan – penyelaan yang
tidak perlu. Jika konselor terlalu banyak berbiacara, kemungkinan besar akan
mengganggu kemampuan konseli untuk berbiacara secara bebas dan proses
konselingnya tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.
Peran utama seorang konselor adalah sebagai pendengar.
Dengan menyimak dan memahami apa yang dikatakan oleh konseli, konselor
akan dapat membantunya mengurai kebingungannya, mengenali dilemma – dilemanya,
menelusuri kemungkinan – kemungkinan pilihan baginya, dan akhirnya keluar dari
sesi konseling dengan perasaan bahwa ia telah mendapatkan sesuatu yang
bermanfaat dari situ. Maka dari situ konselor harus memahami betul – betul
segala sesuatu yang dikatakan oleh konseli dan mengingat sebanyak mungkin
detail – detail dari percakapannya dengan konseli. Jika konselor ingin
meyakinkan konseli bahwa konselor benar – benar mendengarkannya, fokuskan
konsentrasi pada konseli dan pada hal – hal yang disampaikan. Cobalah untuk
misalnya mengingat nama – nama saudara mereka, apa yang terjadi 5 tahun yang
lalu dalam hubungan mereka, dan bahkan hal – hal yang hanya sekilas ia katakan.
Keterampilan
pertama yang harus dipelajari oleh konselor baru adalah secara sadar
Berusaha
mendengarkan disertai sikap yang menunjukkan ketertarikan. Upaya ini harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga konseli menangkap pesan bahwa konselor
memfokuskan perhatian Anda secara total pada apa yang dikatakannya dan
memahaminya sepenuhnya. Mendengarkan disertai sikap yang menunjukkan
ketertarikan melibatkan penggunaan :
1.Respons – respons minimal
2.Permintaan – permintaan singkat untuk melanjutkan
3.Perilaku non – verbal
4.Suara
5.Sikap diam
Cara yang bagus untuk menunjukkan pada konseli bahwa perhatian konselor
tercurah sepenuhnya padanya dan bahwa konselor benar – benar mendengarkan kata
– kata mereka adalah dengan memahami apa yang konseli ceritakan menggunakan
respons – respons minimal. Respons minimal adalah sesuatu yang biasanya secara
spontan kita lakukan dalam percakapan ketika kita lebih banyak mendengar
daripada berbiacara. Respons-respons minimal kadang-kadang non verbal bentuknya
termasuk anggukan kepala. Yang juga termasuk respons-respons minimal adalah
kata -kata tanggapan seperti di bawah ini :
‘Mm,
‘Mm-hmm’, ‘Oh begitu’, ‘Ya’, ‘Oke’, ‘Tentu’, ‘Baik’, ‘Oh’, dan ‘Benarkah’.
Ekspresi – ekspresi di atas dapat meninformasikan pada konseli bahwa mereka
didengar selain juga mendorong mereka untuk melanjutkan bicaranya. Beberapa
respons yang lebih panjang dari contoh – contoh di atas juga sama fungsinya
dengan respons minimal. Contohnya, konselor bisa saja berkata :
‘Saya
mengerti apa yang Anda katakan’ ‘Saya paham’.
Selagi
konseli terus berbicara, sesekali konselor harus menegaskan kembali bahwa ia
menyimak respons-respons minimal dengan interval yang teratur. Atur jarak
penggunakan respons-respons mionimal konselor dengan tepat. Jika konselor
terlalu sering melakukannya, itu akan mengganggu percakapan. Sebalikmua, jika
responsn-respons tersebut tidak cukup sering dilakukan, konseli bisa jadi akan
berpikir bahwa konselor tidak terlalu menyimak apa-apa yang dikatakannya. Ada
kemungkinan juga konseli akan bertanya-tanya apakah diamnya konselor melakukan
penilaian atau membuat interpretasi tentang hal-hal yang dikatakannya.
D. Kasus
Dewi (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU
Favorit Tasikmalaya yang barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga petani
yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 10 km di luar
kota Tasik, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP
anaknya melanjutkan ke SMU di Tasik; orang tua sebetulnya berharap agar anaknya
tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas bujukan wali
kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan
sekolah. Pertimbangan wali kelasnya karena dewi terbilang
cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU
favorit. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak dewi bangga sebagai anak
desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya
yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda
dengan latar belakang dewi. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya
tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang
sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak,
terisolir, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan
sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan, tetapi mau keluar malu dengan
orang tua dan temannya sekampung; terus bertahan, susah tak ada/punya teman
yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin (dibanding teman-temannya di
kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder,
pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin lama
nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai
ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.
Kesimpulan
Terkait dengan
pelaksanaan konseling 3 M ( mendengarkan, memahami dan merespon ) konselor saat
sedang bersama konseli, cobalah diingat bahwa konseli telah memutuskan untuk
berbicara pada konselor dan ingin bebas mencurahkan segala hal yang sedang
meresahkan diri konseli. Untuk bisa melakukan hal ini, konseli membutuhkan
sebuah permintaan dan kesempatan untuk berbicara tanpa penyelaan – penyelaan
yang tidak perlu. Jika konselor terlalu banyak berbiacara, kemungkinan besar
akan mengganggu kemampuan konseli untuk berbicara secara bebas dan proses
konselingnya tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.
Cara yang
bagus untuk menunjukkan pada konseli bahwa perhatian konselor tercurah
sepenuhnya padanya dan bahwa konselor benar – benar mendengarkan kata – kata
mereka adalah dengan memahami apa yang konseli ceritakan menggunakan respons –
respons minimal. Respons minimal adalah sesuatu yang biasanya secara spontan
kita lakukan dalam oercakapan ketika kita lebih banyak mendengar daripada
berbiacara. Respons – respons minimal kadang – kadang non – verbal bentuknya
termasuk anggukan kepala
Teknik-Teknik Khusus Konseling
Dalam konseling,
di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat
menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus
ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan
Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya
Di bawah
disampaikan beberapa teknik – teknik
khusus konseling, yaitu :
1. Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan
untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini
terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu
mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan
afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan
peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan
dalam latihan asertif ini.
2. Desensitisasi
Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral
yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami
dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah
menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon
yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian
klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap.
Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang
digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya
merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku
yang akan dihilangkan.
3. Pengkondisian
Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.
Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon
pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus
yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan
dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian
ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan
stimulus yang tidak menyenangkan.
4. Pembentukan
Perilaku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada
klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor
menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio,
model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku
yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari
konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.
5. Permainan Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk
mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top
dog dan kecenderungan under dog, misalnya :
- Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak.
- Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh.
- Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.
- Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.
- Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.
Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt
pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia
berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan
dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
6. Latihan Saya
Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar
mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya
itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat
suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan
kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.
Misalnya :
“Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”
“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya
bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”.
“Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”
Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu
meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini
diingkarinya.
7. Bermain Proyeksi
Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan
yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari
perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Sering
terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut
yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien
untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
8. Teknik Pembalikan
Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan
pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor
meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan
yang dikeluhkannya.
Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk
memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.
9. Bertahan dengan
Perasaan
Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan
atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya.
Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin
dihindarinya itu.
Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang
menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal
ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau
kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam
lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran
perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi
perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan
pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
10. Home work
assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk
melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang
menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan,
klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan
perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan
tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru,
mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien
dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk
membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri
sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan
mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
11. Adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan
klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang
diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri
klien.
12. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan
(perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian
rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui
peran tertentu.
13. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku
tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang
negatif.
Sumber : PIKMA CARE TASYIKMALAYA
Sumber : PIKMA CARE TASYIKMALAYA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar