Sabtu, 18 Mei 2013

TEKNIK KONSELING EFEKTIF


Add caption    

Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseling merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Teknik konseling adalah cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang konselor dalam proses konseling untuk membantu klien agar berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan kondisi- kondisi di lingkungannya yakni nilai- nilai sosial, budaya, dan agama.
Bagi seorang konselor, menguasai teknik- teknik konseling merupakan suatu keniscayaan. Dalam proses konseling, penguasaan terhadap teknik konseling merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan konseling. Seorang konselor yang efektif harus mampu merespons klien secara baik dan benar sesuai keadaan klien saat itu. Respons yang baik berupa pertanyaan- pertanyaan verbal dan non verbal yang dapat menyentuh, merangsang, dan mendorong sehingga klien terbuka untuk menyatakan secara bebas perasaan, pikiran, dan pengalamannya (Sopyan, S. Wilis, 2004: 157).
Sebagai suatu proses, implementasi teknik- teknik konseling akan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap- tahap tersebut adalah:
1.      Persiapan konseling
Pada tahap ini, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh konselor untuk memulai proses konseling yaitu, membentuk kesiapan untuk konseling, memperoleh riwayat kasus, dan evaluasi psikodiagnostik.
a.       Kesiapan untuk konseling
Untuk dapat melakukan konseling secara efektif dan agar konseling berhasil dan berdaya guna, konselor harus melakukan persiapan. Begitu juga klien, agar dapar berpartisipasi secara aktif sesuai tuntutan konseling, harus siap untuk mengikuti konseling. Tanpa partisipasi dari klien atau tanpa kesiapan klien, proses konseling bisa gagal.
Hal- hal yang berkenaan dengan kesiapan konseling terutama yang berhubungan dengan klien adalah:
1)      memotivasi klien untuk memperoleh bantuan
2)      pengetahuan klien tentang konseling
3)      kecakapan intelektual
4)      tingkat tilikan terhadap masalah dan dirinya sendiri
5)      harapan- harapan terhadap peran konselor
6)      sistem pertahanan diri
Motivasi klien untuk memperoleh bantuan akan menentukan jalannya proses konseling. Klien yang mengikuti sesi konseling karena mengikuti keinginan guru wali kelas atau orang lain termasuk konselornya sendiri (terpaksa), akan berbeda partisipasinya dalam konseling jika motivasi mereka benar- benar ingin memperoleh bantuan. Begitu pun klien yang mengetahui tentang konseling. Klien yang tidak mengetahui tentang konseling, ia tidak akan maksimal memanfaatkan jasa konselor.
Dalam proses konseling harus ada respons-respons tertentu dari klien. Klien yang kemampuan intelektualnya rendah, akan sulit merespons proses konseling. Ada klien yang mampu melihat masalahnya sendiri dan ada yang tidak. Klien yang mampu melihat masalahnya sendiri, akan mampu berpartisipasi secara aktif dalam konseling sehingga proses konseling akan berjalan secara lancar. Sebaliknya, klien yang tidak mampu melihat masalahnya sendiri, akan sulit untuk berpartisipasi dalam proses konseling. Klien yang banyak berharap dan mengerti peran- peran konselor, ia akan memanfaatkan jasa konselor secara maksimal, sebaliknya yang tidak mengerti tentang peran- peran konselor, maka ia tidak akan banyak berharap bahwa konselor dapat membantunya untuk memecahkan masalah. 
Agar klien siap dalam mengikuti konseling, disarankan kepada konselor agar melakukan hal- hal berikut:
1)      memulai pembicaraan dengan berbagai pihak tentang berbagai topik masalah dan pelayanan konseling yang diberikan,
2)      menciptakan iklim kelembagaan yang kondusif sehingga merangsang siswa untuk memperoleh bantuan,
3)      menghubungi sumber- sumber referal (rujukan) misalnya dari organisasi dan sekolah,
4)      memberikan informasi kepada klien tentang dirinya dan prospeknya,
5)      melalui proses pendidikan itu sendiri, dan
6)      melakukan orientasi pra konseling.

b.      Riwayat kasus
Riwayat kasus adalah suatu kumpulan fakta yang sistematis tentang kehidupan klien sekarang dan masa lalu. Secara sederhana riwayat kasus bisa dikatakan melakukan identifikasi terhadap masalah- masalah yang dialami klien. Menurut Surya (1988: 160), riwayat kasus dapat dibuat dalam bentuk:
1)      Riwayat konseling psikoterapeutik, yang lebih memusatkan pada masalah- masalah psikoterapeutik dan diperoleh melalui wawancara konseling,
2)      Catatan komulatif (commulative record), yaitu suatu catatan tentang berbagai aspek yang menggambarkan perkembangan seseorang,
3)      Biografi dan autobiografi,
4)      Tulisan- tulisan yang dibuat sendiri oleh siswa yang berkasus sebagai dokumen pribadi (mungkin dalam bentuk catatan anekdot),
5)      Grafik waktu tentang kehidupan siswa yang berkasus.
c.       Evaluasi psikodiagnostik
Dalam bidang medis, diagnosis diartikan sebagai suatu proses memeriksa gejala, memperkirakan sebab- sebab, mengadakan observasi, menempatkan gejala dalam kategori, dan memperkirakan usaha- usaha penyembuhannya. Dalam bidang psikologis, proses diagnosis mempunyai beberapa arti dan sulit dipisahkan secara tegas sebagaiman halnya dalam bidang medis. Secara umum diagnosis dalam bidang psikologis berarti pernyataan tentang masalah klien, perkiraan sebab- sebab kesulitan, kemungkinan teknik- teknik konseling untuk memcahkan masalah, dan memperkirakan hasil konseling dalam bentuk tingkah laku klien di masa yang akan datang. (Surya, 1988: 162)
Selanjutnya menurut Surya (1988) psikodiagnostik mempunyai dua arti yaitu, pertama sebagai suatu klasifikasI deskriptif masalah- masalah yang sama dengan klasifikasi psikiatris untuk gangguan neurosis, psikosis, dan karakter yang selanjutnya disebut diagnosis diferensial. Kedua, psikodiagnosis sebagai suatu prosedur menginterpretasikan data kasus, yang selanjutnya disebut diagnosis struktural.
Penggunaan tes psikodiagnosis dalam konseling berfungsi untuk:
1)      menyeleksi data yang diperlikan bagi konseling
2)      meramalkan keberhasilan konseling
3)      memperoleh informasi yang lebih terinci
4)      merumuskan diagnostic yang lebih tepat
Dalam proses konseling memerlukan teknik- teknik tertentu sehingga konseling bisa berjalan secara efektif dan efisien atau berdaya guna dan berhasil guna. Adapun

Teknik dalam konseling
1)      Teknik rapport
Teknik rapport dalam konseling merupakan suatu kondisi saling memahami dan mengenal tujuan bersama. Tujuan utama teknik ini adalah untuk menjambatani hubungan antara konsleor dengan klien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Implementasi teknik ini dalam konseling adalah:
a)      pemberian salam yang menyenangkan
b)      menetapkan topik pembicaraan yang sesuai
c)      susunan ruang konseling yang menyenangkan
d)     sikap yang ditandai dengan: kehangatan emosi, realisasi tujuan bersama, dan    menjamin kerahasiaan klien
e)      kesadaran terhadap hakekat klien secara alamiah
2)      Perilaku attending
Attending merupakan upaya konselor menghampiri klien yang diwujudkan dalam bentuk perilaku seperti kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan.
Perilaku attending berkenaan dengan teknik penerimaan konselor terhadap klien. Teknik penerimaan menggambarkan cara bagaimana konselor menerima klien dalam proses atau sesi konseling. Atau cara bagaimana konselor bertindak agar klien merasa diterima dalam proses konseling. Teknik ini dalam proses konseling bisa diwujudkan melalui ekspresi wajah (misalnya ceria atau cemberut). Selanjutnya juga bisa diwujudkan dalam bentuk tekanan atau nada suara dari konselor (tinggi, mendatar, rendah) dan jarak duduk antara konselor dan klien.
3)      Teknik structuring
Structuring adalah proses penetapan batasan oleh konselor tentang hakikat, batas- batas, dan tujuan proses konseling pada umumnya dan hubungan tertentu pada khususnya. Structuring memberikan kerangka kerja atau orientasi terapi kepada klien. Structuring ada yang bersifat implisit di mana secara umum peranan konselor diketahui oleh klien dan ada yang bersifat formal berupa pernyataan konselor untuk menjelaskan dan membatasai proses konseling.
4)      Empati
Empati merupakan kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan oleh klien, merasa dan berpikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan bersamaan dengan attending, karena tanpa attending tidak akan ada empati.
5)      Refleksi perasaan
Refleksi perasaan merupakan suatu usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk katap- kata yang segar dan sikap yang diperlukan terhadap klien. Refleksi perasaan juga merupakan teknik penengah yang bermanfaat untuk digunakan setelah hubungan permulaan (tahap awal konseling) dilakukan dan sebelum pemberian informasi serta tahap interpretasi dimulai.
6)      Teknik eksplorasi
Eksplorasi merupakan keterampilan konselor untuk menggali perasaan,
pengalaman, dan pikiran klien. Eksplorasi ada tiga macam yaitu, eksplorasi perasaan, eksplorasi pikiran, dan eksplorasi pengalaman.
7)      Teknik paraphrasing (menangkap pesan utama)
Tujuan paraphrase antara lain adalah mengatakan kembali esensi atau inti ungkapan klien, untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien, mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan, memberi arah wawancara konseling, mengecek kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.
8)      Teknik bertanya
Teknik bertanya ada dua macam yaitu bertanya terbuka (open question) dan bertanya tertutup (closed question).
9)      Dorongan minimal (minimal encouragement)
Dorongan minimal yaitu suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikatakan klien.
10)     Interpretasi
Interpretasi merupakan upaya konselor mengulas pikiran, perasaan, dan perilaku atau pengalaman klien berdasarkan atas teori- teori tertentu. Tujuannya adalah untuk memberikan rujukan, pandangan atau tingkah laku klien, agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru.
11)  Teknik mengarahkan (directing)
12)  Teknik menyimpulkan sementara (summarizing)
Tujuan dari teknik ini adalah memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik (feed back) dari hal- hal yang telah dibicarakan bersama konselor, untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, untuk meningkatkan kualitas diskusi, mempertajam atau memperjelas fokus atau arah wawancara konseling.
13)  Teknik- teknik memimpin
Memimpin dalam konseling bisa memiliki dua arti, pertama menunjukkan keadaan di mana konselor berada di dalam atau di luar pikiran klien. Kedua, keadaan di mana konselor mengarahkan pikiran klien kepada penerimaan perkataan konselor.
Teknik ini bertujuan agar pembicaraan klien tidak menyimpang dari fokus yang dibicarakan dan agar arah pembicaraan terfokus pada tujuan konseling.
14)  Teknik fokus
Fokus akan membantu klien untuk memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan. Ada empat fokus dalam konseling, pertama fokus pada diri klien. Kedua, fokus pada orang lain. Ketiga, fokus pada topik. Keempat, fokus mengenai budaya.
15)  Teknik konfrontasi
Dalam konseling dikenal juga dengan “memperhadapkan”. Teknik konfrontasi adalah suatu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi (tidak konsisten) antara perkataan dengan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan. Tujuannya adalah mendorong klien untuk mengadakan penelitian diri secara jujur (introspeksi diri secara jujur), meningkatkan potensi klien, membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi (kondisi pertentangan antara harapan seseorang dengan kondisi nyata di lingkungan) dari klien dengan, inkonsistensi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
16)  Penjernihan (Clarifying)
Tujuannya adalah pertama mengundang klien untuk menyatakan pesanya secara jelas, ungkapan kata- kata yang tegas, dan dengan alasan- alasan yang logis. Kedua, agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.
17)  Memudahkan (Fasilitating)
Fasilitating adalah suatu teknik membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas.
18)  Diam sebagai suatu teknik
Diam dalam konseling bisa dijadikan sebagai suatu teknik. Dalam konseling, diam bukan berarti tidak ada komunikasi. Komunikasi tetap ada, yaitu melalui perilaku non verbal.
Dalam konseling, diam bisa memiliki beberapa makna, pertama penolakan atau kebingungan klien. Kedua, klien atau konselor telah mencapai akhir suatu ide dan ragu mengatakan apa selanjutnya. Ketiga, kebingungan yang didorong oleh kecemasan atau kebencian. Keempat, klien mengalami perasaan sakit dan tidak siap untuk berbicara. Kelima, klien mengharapkan sesuatu dari konselor. Keenam, klien sedang memikirkan apa yang dikatakan. Ketujuh, klien baru menyadari kembali dan ekspresi emosional sebelumnya (Surya, 1988: 165).
Tujuan teknik ini adalah menanti klien yang sedang berpikir, sebagai protes apabila klien berbicara berbelit- belit (nglantur), menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien bebas berbicara (Surya, 1988: 165).
19)  Mengambil inisiatif
Teknik ini diterapkan apabila: (1) untuk mengambil inisiatif apabila klien kurang bersemangat, (2) klien lambat berpikir untuk mengambil keputusan, dan (3) klien kehilangan arah pembicaraan.
20)  Memberi nasihat
21)  Pemberian informasi
22)  Merencanakan
Rencana yang baik harus merupakan hasil kerja sama antara konselor dengan klien.
23)  Menyimpulkan
Pada akhir sesi konseling, bersama klien konselor membuat suatu kesimpulan.
24)  Teknik mengakhiri
Untuk mengakhiri sesi konseling, dapat dilakukan konselor dengan cara: (1) mengatakan bahwa waktu sudah habis, (2) merangkum isi pembicaraan, (3) menunjukkan kepada pertemuan yang akan datang (menetapkan jadwal pertemuan sesi berikutnya), (4) mengajak klien berdiri dengan isyarat gerak tangan, (5) menunjukkan catatan- catatan singkat hasil pembicaraan konseling, (6) memberikan tugas- tugas tertentu kepada klien yang relevan dengan pokok pembicaraan apabila diperlukan.

Sumber : Bimo walgito bimbingan dan konseling di perguruan tinggi. Yayasan penerbitan fakultas psikologi UGM Yokyakarta. 1982. hal: 96




Teknik dan Keterampilan dalam Konseling 3 M
(Mendengarkan, Memahami, dan Merespons)
                                                                            
 Konseling merupakan dasar inti bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi perkembangan individu. Konseling merupakan suatu hubungan antara pemberi bantuan yang terlatih dengan seorang yang mencari bantuan, dimana keterampilan pemberi bantuan dan suasana yang dibuatnya membantu orang lain belajar untuk berhubungan dengan dirinya sendiri atau orang lain.
Konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan professional dan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Tanpa didukung oleh penguasaan-penguasaan teknik-teknik konseling bisa terjadi bantuan yang diberikan kepada klien tidak akan berjalan efektif.
 Pengertian  3 M
I.                    Mendengarkan (Efective listening)
Mendengarkan yang perlu diperhatikan dalam mendengarkan terhadap pembicaraan konseli adalah mendengarkan dan memahami seluruh pesan – pesan konseli, memelihara perhatian yang terpusat pada konseli, serta mengarahkan diri terhadap apa yang telah dinyatakan oleh konseli.
1. Dengan kemampuan EL konselor, klien dapat mengekpressikan apa yang harus diekspreskannya baik melalui kata, perasaan dan tingkah laku
2.EL bukan sikap diam sambil memikirkan advis yang akan diberikan
3.EL = pemakaian untuk menangkap :
•         Kata-kata yang diucapkan konseli.
•         Perasaan dibalik kata-kata konseli.
•         Ekspressi wajah dan tingkah laku konseli.
•         EL = diciplin listening , karena EL tidak hanya melibatkan sikap mendengarkan.         
•        Kesadaran dan sensitivitas konselor terhadap sikapnya sendiri yakni sikap mendorong konselor untuk mendorong konseli mengekspresi kata-kata, perasaan secara wajar.
•         Kemampuan untuk menangkap inti kata-kata yang diucapkan Konseli secara obyektif.
•         Kemampunan konselor menahan diri dari dorongan untuk berkata - kata lebih banyak/sebelum waktunya.
 II. Memahami ( Understanding)
Kemampuan memahami harus didukung oleh :
1. Empati : sikap positif konselor terhadap konseli, yang diekspresikan melalui kesediaan untuk menempatkan diri pada tempat Konseli, merasakan apa yang dirasakan konseli dan mengerti dengan pengertian konseli.
       Faktor penghambat empati :
  • Pikiran yang terikat pada teori/teknik konseling yang akan dipakai  
  • Terlalu cepat memikirkan pemecahan persoalan konseli
  • Kecemasan yang mematikan perasaan konseli dan konseli
2.Sikap menerima ( acceptance) Sikap menerima adalah kesediaan Konselor untuk menerima keberadaan Konselee sebagaimana adanya.
  • Non judgmental
  • Menempatkan hal-hal negatif pada konteks yang tepat
  • Bukan sikap membenarkan atau mentralisir


III.Merespon ( Responding)
Memberikan respon yang baik dan positif, respon konselor dikatakan tepat dan positif bila:
  • Bahasanya jelas, singkat dan tepat
  • Tidak memakai kata-kata “ tapi” , “namun” karena dapat melemahkan posisi konseli
Dengan respon tepat dan positif Konseli menjadi :
  • Menerima respon dengan baik
  • Berdampak positif pada konseli
Respon yang tepat dan positif akan menciptakan suasana yang kondusif dengan :
  • Warmth ( kehangatan )
  • Support ( dukungan )
  • Genuineness ( kemurnian )
  • Stimulating ( menstimulir )
CIRI-CIRI RESPON YANG TEPAT DAN POSITIF
  • Menjadikan klien senang sehingga dapat  mendorongnya untuk berbicara lebih banyak tentang masalahnya & dapat membantu klien mendalami perasaan dan fikiran yang berhubungan dengan masalahnya
  • Dapat mengarahkan klien untuk mengubah sikap, pandangan, kebiasaan dan tingkah laku yang menyebabkan timbulnya masalah
C. Cara Pelaksanaan
Terkait dengan pelaksanaan konseling 3 M ( mendengarkan, memahami dan merespon ) konselor saat sedang bersama konseli, cobalah diingat bahwa konseli telah memutuskan untuk berbicara pada konselor dan ingin bebas mencurahkan segala hal yang sedang meresahkan diri mereka. Untuk bisa melakukan hal ini, mereka membutuhkan sebuah permintaan dan kesempatan untuk berbicara tanpa penyelaan – penyelaan yang tidak perlu. Jika konselor terlalu banyak berbiacara, kemungkinan besar akan mengganggu kemampuan konseli untuk berbiacara secara bebas dan proses konselingnya tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.
    Peran utama seorang konselor adalah sebagai pendengar. Dengan menyimak dan  memahami apa yang dikatakan oleh konseli, konselor akan dapat membantunya mengurai kebingungannya, mengenali dilemma – dilemanya, menelusuri kemungkinan – kemungkinan pilihan baginya, dan akhirnya keluar dari sesi konseling dengan perasaan bahwa ia telah mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari situ. Maka dari situ konselor harus memahami betul – betul segala sesuatu yang dikatakan oleh konseli dan mengingat sebanyak mungkin detail – detail dari percakapannya dengan konseli. Jika konselor ingin meyakinkan konseli bahwa konselor benar – benar mendengarkannya, fokuskan konsentrasi pada konseli dan pada hal – hal yang disampaikan. Cobalah untuk misalnya mengingat nama – nama saudara mereka, apa yang terjadi 5 tahun yang lalu dalam hubungan mereka, dan bahkan hal – hal yang hanya sekilas ia katakan.
Keterampilan pertama yang harus dipelajari oleh konselor baru adalah secara sadar
Berusaha mendengarkan disertai sikap yang menunjukkan ketertarikan. Upaya ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga konseli menangkap pesan bahwa konselor memfokuskan perhatian Anda secara total pada apa yang dikatakannya dan memahaminya sepenuhnya. Mendengarkan disertai sikap yang menunjukkan ketertarikan melibatkan penggunaan :
1.Respons – respons minimal
2.Permintaan – permintaan singkat untuk melanjutkan
3.Perilaku non – verbal
4.Suara
5.Sikap diam
Cara yang bagus untuk menunjukkan pada konseli bahwa perhatian konselor tercurah sepenuhnya padanya dan bahwa konselor benar – benar mendengarkan kata – kata mereka adalah dengan memahami apa yang konseli ceritakan menggunakan respons – respons minimal. Respons minimal adalah sesuatu yang biasanya secara spontan kita lakukan dalam percakapan ketika kita lebih banyak mendengar daripada berbiacara. Respons-respons minimal kadang-kadang non verbal bentuknya termasuk anggukan kepala. Yang juga termasuk respons-respons minimal adalah kata -kata tanggapan seperti di bawah ini :
            ‘Mm, ‘Mm-hmm’, ‘Oh begitu’, ‘Ya’, ‘Oke’, ‘Tentu’, ‘Baik’, ‘Oh’, dan ‘Benarkah’.
Ekspresi – ekspresi di atas dapat meninformasikan pada konseli bahwa mereka didengar selain juga mendorong mereka untuk melanjutkan bicaranya. Beberapa respons yang lebih panjang dari contoh – contoh di atas juga sama fungsinya dengan respons minimal. Contohnya, konselor bisa saja berkata :
            ‘Saya mengerti apa yang Anda katakan’ ‘Saya paham’.
            Selagi konseli terus berbicara, sesekali konselor harus menegaskan kembali bahwa ia menyimak respons-respons minimal dengan interval yang teratur. Atur jarak penggunakan respons-respons mionimal konselor dengan tepat. Jika konselor terlalu sering melakukannya, itu akan mengganggu percakapan. Sebalikmua, jika responsn-respons tersebut tidak cukup sering dilakukan, konseli bisa jadi akan berpikir bahwa konselor tidak terlalu menyimak apa-apa yang dikatakannya. Ada kemungkinan juga konseli akan bertanya-tanya apakah diamnya konselor melakukan penilaian atau membuat interpretasi tentang hal-hal yang dikatakannya.
 D. Kasus
Dewi (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Tasikmalaya yang barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 10 km di luar kota Tasik, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Tasik; orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Pertimbangan wali kelasnya karena dewi terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak dewi bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang dewi. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolir, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung; terus bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.

Kesimpulan
Terkait dengan pelaksanaan konseling 3 M ( mendengarkan, memahami dan merespon ) konselor saat sedang bersama konseli, cobalah diingat bahwa konseli telah memutuskan untuk berbicara pada konselor dan ingin bebas mencurahkan segala hal yang sedang meresahkan diri konseli. Untuk bisa melakukan hal ini, konseli membutuhkan sebuah permintaan dan kesempatan untuk berbicara tanpa penyelaan – penyelaan yang tidak perlu. Jika konselor terlalu banyak berbiacara, kemungkinan besar akan mengganggu kemampuan konseli untuk berbicara secara bebas dan proses konselingnya tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.
Cara yang bagus untuk menunjukkan pada konseli bahwa perhatian konselor tercurah sepenuhnya padanya dan bahwa konselor benar – benar mendengarkan kata – kata mereka adalah dengan memahami apa yang konseli ceritakan menggunakan respons – respons minimal. Respons minimal adalah sesuatu yang biasanya secara spontan kita lakukan dalam oercakapan ketika kita lebih banyak mendengar daripada berbiacara. Respons – respons minimal kadang – kadang non – verbal bentuknya termasuk anggukan kepala 
 
 Teknik-Teknik Khusus Konseling
Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya
Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling, yaitu :
1. Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.
2. Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.
3. Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
4. Pembentukan Perilaku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.
5. Permainan Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya :
  • Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak.
  • Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh.
  • Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.
  • Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.
  • Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.
Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
6. Latihan Saya Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.
Misalnya :
“Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”
“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”.
“Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”
Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.
7. Bermain Proyeksi
Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
8. Teknik Pembalikan
Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.
Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.
9. Bertahan dengan Perasaan
Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
10. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
11. Adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
12. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
13. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.

Sumber : PIKMA CARE TASYIKMALAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comentar