Jumat, 11 November 2016

DAD IMM STAIDA


DAD IMM STAIDA Muhammadiyah Garut


Darul Arqom Dasar atau Pengakaderan yang di laksanakan oleh IMM STAIDA Muhammadiyah Garut, Alhamdulillah terlaksana dengan Baik.. .
.
Pengkaderan merupakan proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal,kemampuan fisik, dan moral sosialnya. Sehingga, kader dapat membantu orang lain dan dirinya sendiri untuk memperbaiki keadaan sekarang dan mewujudkan masa depanyang lebih baik sesuai dengan cita-cita yang diidealkan.
.
Pengkaderan yang dilakukan IMM tentunya adalah pengkaderan di tingkatan para akademisi atau di kalangan mahasiswa. Sebagai organisasi pengkaderan fokus utama adalah membentuk kader yang memiliki kualifikasi yang di inginkan dalam organisasi tersebut yang sesuai dengan tujuan organisatoris.
Mudah2an kader yang baru ini menjadi pembeda dengan non organisatoris apalagi non akademis, karna Arah pengkaderan dalam IMM itu sendiri diarahkan pada terbentuknya kader yang siap berkembang sesuai dengan spesifikasi profesi yang ditekuninya, kritis, logis, trampil, dinamis, dan utuh. lalu kualitas kader yang demikian ditransformasikan dalam tiga lahan aktualisasi yakni : persyarikatan, umat dan bangsa. Secara substansial, arah perkaderan IMM adalah penciptaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Kabid Hikmah,
#SalamFasqot
MANUSIA VISIONER

oleh : Agus Rahmat Nugraha
 (Waka III Staida Muhammadiyah  & Waka I Majdikdasmen PDM Garut)

Bayangkan hidup kita seperti pemain acrobat dengan lima bola di udara. Kita bisa menamai bola-bola itu dengan  sebutan: pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat. Kita harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu diantara lima bola tersebut, lepaskanlah “pekerjaan” karena pekerjaan adalah BOLA KARET. Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali. Namun empat bola lain seperti Keluarga, Kesehatan, Sahabat, dan Semangat adalah BOLA KACA. Jika Anda  menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal. Betul kita hidup harus secara seimbang. Dan pada kenyataanya, kita terlalu menjaga pekerjaan (bola karet). bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan, persahabatan, dan semangat demi menyelamatkan bola karet tersebut. Demi uang, pekerjaan, bahkan jabatan, kita seringkali mengabaikan kekuarga. Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita tidak memperhatikan kesehatan. demi uang, pekerajaan atau jabatan, kita rela menghancurkan hubungan dengan sahabat baik. Bukan pekerjaan tidak penting! tapi  jangan sampai uang atau pekerjaan menjadi “berhala” dalam hidup kita. Ingat, kalaupun kita kehilangan, uang selalu bisa dicari lagi. Tapi jika keluarga sudah “terjual”, kemana kita bisa membelinya lagi? Apakah kita bisa membeli sahabat? Apakah kesehatan bisa kembali normal, jika kita terkena penyakit kritis? Dan apa pula yang bisa kita perbuat saat-saat “semangat” sudah hilang sama sekali? (Diadaptasi dari tulisan Brian Dyson, mantan Chief Executive Officer/CEO Coca Cola).
Pesan penting dari tulisan diatas adalah, jangan sampai kita salah menempatkan prioritas dan kualitas hidup dan kehidupan. Manusia  sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah SWT menjadi dirinya yang paripurna saat mampu mengidentifikasi secara shahih siapa dirinya dan akan menuju kearah hidup seperti apa? sebab setiap manusia akan diuji terus hingga akhir hayatnya mengenai visi hidupnya ini. Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman: “yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.  Dan Dia Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S.Al-Mulk ayat 2).
Manusia visoner secara hakiki adalah manusia yang hidup dalam system yang terorganisir, terencana, sistemik, bertujuan, sekaligus fungsional. Manusia yang memahami pilihan untuk mampu menempatkan prioritas dan kualitas hidup adalah mereka yang memiliki strategic planning,  if you don’t think about the future, you won’t have one. Yakni manusia yang memiliki kekuatan jiwa (iman), kepekaan, serta kemampuan teknik yang mampu memimpin seluruh aktivitasnya dengan memanfaatkan sumberdaya dirinya yang dimanage secara baik, berupa aqal, qolbu, jism, dan nafsunya yang fungsional.
Hidup ini selalu memilih, dan setiap orang diharuskan setiap saat untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan untuk menjadi seperti apa kualitas hidup ini dibangun. Setiap hal yang dipilih senantiasa berbasis kesempatan untuk dimanfaatkan. Kesempatan datang dengan tiba-tiba dan perginya mendadak pula. Siapa yang berani menangkapnya, dia itulah yang menciptakan pekerjaan yang besar. Oleh karenanya menurut Binton R. Claark, manusia visoner setidaknya harus memiliki empat (4) nilai sandaran utama: pertama, kompetensi (dalam hal ini iman, ‘ilmu dan amal shaleh sebagai modalitas utamanya); kedua, peka secara social budaya dan jiwa melayani (social justice); ketiga, jiwa merdeka (liberty); dan keempat, pilihan terhadap sebuah  kesetiaan dan keberpihakan (loyality). Dengan sandaran utama ini, maka manusia memiliki cara pendang yang beprbeda atas pengalaman  hidup yang dijalaninya. Jika kita mulai memandang pengalaman dengan cara yang berbeda, berarti tearobosan yang penting  terjadi dalam kehidupan kita.
Dalam khazanah Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia visoner  teladan dengan dua (2) barometer utama, yakni : pertama, kejelasan visi-misi perjuangannya berupa rahmatan lil’alamin dan kedua, keteladanan utama berupa satunya kata dan perbuatan. Manusia visioner senantiasa membangun cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya cinta bersifat subjektif, yaitu untuk kepentingan yang mencintai, sedangkan kasih sayang bersifat objektif, yaitu untuk kepentingan yang disayangi (Azis Salam). Alhasil manusia visioner adalah manusia merdeka, mereka yang bisa menetapkan prioritas dan kualitas hidup dan kehidupannya secara bebas, leluasa dan tanpa tekanan. Jiwanya jembar (berjiwa besar), inklusif, sportif, egaliter, optimis, penuh rahmat-salam dan  sekaligus muthmainah (tenang): “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam Jemaah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam syurga Ku” (Q.S. Al-Fajr 27-30).
Manusia visoner berpikir bahwa hidup bukan sekedar untuk kini, saat ini, dan disini saja, melainkan ada yang dituju secara futuristic sejati, yakni keridhoan Allah SWT semata. Allah SWT berfirman: “Dan diantara manusia ada yang menjual dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya” (Q.S. Al-Baqarah:207). Dan manusia visioner pada gilirannya akan memperoleh beberapa keadaan kesejatiaan cinta dan kasih sayang berikut: pertama, sakana ilaihi (tenang kepadaNya); kedua, istijaro bihi (hanya meminta perlindungan kepadaNya); ketiga, ittaja ilaihi bi syaukin (hatinya menuju kesana dengan penuh kerinduan); dan keempat,  wuli’a bihi (gandrung kepadaNya).
Jika demikian, masihkah kita akan terus menerus ngotot, berebut dengan mengalalkan segala cara, saling tebas, dan saling bunuh hanya demi uang, pekerjaan, dan jabatan? Bukankah ada yang lebih berarti untuk hidup yang lebih bermakna (meaningfull life), yakni keluarga, kesehatan, persahabatan, dan semangat? masihkah mau mengejar sesuatu yang nisbi-sementara untuk megorbankan keridhoan Allah sebagai sesuatu yang hakiki-abadi abadan? akhirnya fainama tadhabun?


Senin, 08 Agustus 2016

PC IMM Garut Resmi Dilantik

Photo Resepsi Pelantikan

(PDM Garut) Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Jawa Barat, resmi melantik Dewan Pimpinan Cabang (DPC) IMM Kab.Garut periode 2016-2017 yang di pimpin oleh Yudi Nurul Ikwan, menggantikan Rendi Sb Ibrani sebagai pemimpin sebelumnya. Berlokasi di Gedung MUI Kab.Garut, Minggu (07/08/2016) Pukul 13:30. Acara prosesi pelantikan ini berjalan begitu khidmat, dihadiri oleh Bapak Asep Burhan selaku Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kab.Garut , lalu Kang Ayi selaku ketua KNPI Kab.Garut dan kang Robby Karman dari DPD IMM Jawa Barat, PK IMM, Alumni IMM, IPM, Pemuda Muhammadiyah, HMI, KAMMI, IPNU, HIMA PERSIS, dan OKP Lainnya.

Dalam sambutannya setelah dilantik sebagai ketua yang baru, Immawan Yudi Nurul Ikhwan menuturkan bahwa makna kader ialah seorang yang mesti siap melanjutkan tampuk kepemimpinan selanjutnya. Kita menyadari betul, pertanggung jawaban dan komitmen kita sebagai pimpinan baru, maka dari itu kita menyatakan untuk siap melanjutkan estafet kepemimpinan ini. Untuk merealisasikannya, tentu kita tentu mesti bersinergi bersama semua pihak, baik di internal maupun Eksternal IMM. Serta membenahi secara Administratif, dalam konteks pengkaderan. Sehingga IMM dapat berwujud prestasi. Mudah2an PC IMM kedepan memeberi warna indah, sehingga mampu menampung aspirasi rakyat yang haus akan janji penguasa sewaktu belum duduk di kursi kekuasaan. Semoga IMM Memberi warna. Juga Bapak Asep Burhan dalam sambutannya Bahwa Kader itu adalah orang yang berada didepan sebagai leader bukan sebagai follower, mesti terdepan dan menegakan keadilan, Dan Tidak ketinggalan, sambutan dari Ketua DPD IMM Jawa Barat, Immawan Robby Karman. Beliau menegaskan bahwa IMM kedepan mesti melanjutkan ekstapet kepemimpinan periode sebelumnya karena mau tdk mau DPC IMM kedepan jangan menjadi baru kembali karna masa jabatan DPC IMM kedepan hanya 1 tahun sehinga mesti extra dalam mengamban Amanahnya.
Terakhir, Acara Pelanikan PC IMM Kab.Garut ini di sambung dengan acara Stadium General bersama pemateri Robby sebagai (ketua DPC IMM Jabar) dan Bapak Agus R Nugraha (Dosen STAIDA M Garut) membahas tentang “Pemuda/Mahasiswa dan sejarah indonesia dalam perspektif politik, pendidikan dan Sosial ekonomi”

Penulis. Agus Saefudin (Kabid Hikmah)

Senin, 30 November 2015

IHYAUSSUNNAH DEMI EKSISTENSI ISLAM (1)

MU’AMMMAL HAMIDY, LC


Berbicara mengenai ihyaussunnah 
(menghidup-hidupkan Sunnah) demi eksistensi  Islam, di sini kita bawakan Hadits firasat Nabi saw tentang Sunnah (tradisi) Yahudi dan Nashrani, yang harus diwaspadai oleh umat Islam, yaitu: 

“Abu Said al-Khudri meriwayatkan,
 bahwasanya Nabi saw bersabda: Sungguh benar-benar kalian  nanti akan mengikuti cara perilaku orangorang sebelum kamu. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga  seandainya mereka itu melintasi liang biawak niscaya kalian akan melintasinya juga. Kami (para sahabat) bertanya: Apakah mereka yang dimaksud itu Yahudi dan Nashara, ya Rasulallah? Jawab beliau: Lalu siapa lagi?!” (H.R. Bukhari 11: 272). 

Sementara, dalam riwayat Ahmad,
 berbunyi:
“Abu Hurairah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Sungguh benar-benar kalian nanti akan mengikuti cara perilaku orangorang sebelum kamu. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sebahu demi sebahu,  sehingga sungguh seandainya salah seorang di antara mereka itu masuk ke liang biawak niscaya kalian pun akan masuk juga. Mereka (para sahabat) bertanya: Ya Rasulallah, apakah mereka yang dimaksud itu Yahudi dan Nashrani? Jawab beliau: Siapa lagi   kalau bukan dia.” (H.R. Ahmad, 21 : 451).

Penjelasan 

Hadits ini termasuk firasat Nabi saw untuk masa yang akan datang. Firasat beliau itu pasti benar, karena termasuk bagian dari wahyu Allah. Tujuan firasat adalah sebuah peringatan. Seperti yang diisyaratkan dalam Al- Qur’an sebagai tanda-tanda (kekuasaan Allah)   bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (Q.s. Al-Hijr [15]: 75). Yang dimaksud memperhatikan tanda-tanda, yaitu mengenal firasat, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah dalam Haditsnya: 
Abu Said al-Khudri meriwayatkan,
katanya: Rasulullah saw bersabda: Takutlah kamu terhadap firasatnya orang  Mukmin karena dia itu melihat dengan nur Allah. Kemudian beliau membaca ayat……” (H.R. Tirmidzi).
Dalam firasatnya ini, Rasulullah memperkirakan, bahwa kehancuran Islam ini akan didahului oleh perilaku umatnya yang akan  mengikuti tradisi Yahudi dan Nashrani. Dalam Haditsnya itu, beliau mempergunakan kata “Sunan” (jamak/plural) dari Sunnah yang asal artinya cara, yang kemudian menjadi istilah, yaitu suatu cara perilaku.Sunnah Rasul, adalah perilaku Rasulullah saw. Kata “sunnah” bisa juga diartikan dengan tindakan, sebagaimana tersebut dalam sebuah Hadits:

“Umar bin Khathab hendak mengenakan
  upeti bagi Majusi, namun dia tidak tahu tindakan apa yang harus dia lakukan. Maka Abdurrahman bin Auf menjawab: Aku benarbenar mendengar Rasulullah saw bersabda: Perlakukanlah mereka itu seperti apa yang diberlakukan terhadap ahli kitab.” (H.R. Malik). 

Di situ, Rasulullah saw mempergunakan
 “sunnah ahli kitab”, artinya perlakuan ahli kitab. Ada tiga perilaku ahli  kitab, baik Yahudi ataupun Nashrani, yang perlu diwaspadai, yang oleh Rasulullah saw umat Islam benar- benar diperingatkan agar  menjauhinya sejauh-jauhnya, kalau tidak ingin Islam hancur dan umat Islam lumpuh, yaitumengkultuskan pemimpin/ ulama,  membuat bid’ah, dan ajakan kompromi.

Mengkultuskan Pemimpin/Ulama Diriwayatkan, bahwa Ummu Salamah istri Nabi saw pernah pergi ke Habasyah, di sana dia melihat ada gereja yang dibangun dengan megah, namanya gereja Mariya di atas kubur seorang tokoh agama. Ummu Salamah bermaksud kiranya  nanti kalau Rasulullah saw wafat juga dikubur seperti itu. Sebagai seorang isteri, sudah tentu akan bangga, suaminya diagung-agungkan  orang banyak. Mendengar cerita itu, Rasulullah saw, yang saat itu sedang sakit, terbangun seraya bersabda: 

Abu Hurairah meriwayatkan, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Semoga Allah memerangi(menghancurkan) Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah),” (H.R. Bukhari dan Muslim). 
Mereka yang berbuat demikian, oleh Rasulullahn saw, dinilai sebagai manusia yang paling buruk:
“Sabda Rasulullah saw: Mereka itu adalah suatu kaum yang apabila ada seorang shalih di kalangan mereka yang meninggal dunia, lalu di atas kuburnya itu dibangun sebuah masjid (tempat ibadah) yang dihiasidengan berbagai lukisan/patung. Mereka itu adalah sejelek-jelek manusia di sisi Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Al-Maududi dalam Mujaz Tarikh Tajdiduddin wa Ihyaihi, setelah membawakan Hadits tersebut, mengatakan: “Saya melihat dengan mata kepala sendiri di kalangan kaum Muslimin yang lemah iman, menjadikan kubur orang-orang shalih – yang biasa dikenal dengan sebutan wali/auliya’ – sebagai sesembahan selain Allah. Kubur-kubur mereka dijadikan masjid, Dan di situ mereka berdoa, mengaji, dan berzikir, tak ubahnya  engan apa yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashara. 

Lain al-Maududi, lain pula Muhammad al-Ghazali. Dia melihat di Mesir dan Bagdad,  lebih gawat lagi, bahwa kubur Imam Syafi’i diagung-agungkan, bahkan dijadikan tawassul kepada Allah dengan cara megirimkan surat kepada Imam Syafi’i yang berada dalam kubur itu. Di sini, Imam Syafi’i dijadikan semacam tukang pos. Sedang di Baghdad, terhadap  kubur Husain bin Ali, di situ mereka merengekrengek sambil menangis, bahkan mayat yang akan dikubur dithawafkan dulu dengan  mengelilingi kubur tersebut. (Lebih lanjut dapat dibaca dalam Bukan dari Ajaran Islam, oleh Muhammad al-Ghazali, hal. 185). 

Tidak terlalu jauh dari itu semua, terjadi pula di Indonesia, betapa banyak kubur para wali yang dibangun, diberi kelambu, di situ didirikan masjid,dan penziarahnya tidak pernah sepi, yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air dengan berbagai tujuan. Dan yang pasti adalah mencari  barakah “ngalap barokah” agar doanya mudah dikabulkan Allah. Di sini, kubur para wali dijadikan semacam “operator”.Cara-cara itulah yang oleh Ahmad Hasan Baquri, Menteri Wakaf Mesir, dikatakan sebagai “penyembahan atas kubur” yang merusak Islam,kendati dengan tujuan taqarrub ila ‘llah (mendekatkan diri kepada Allah). Tak ubahnya dengan kaum musyrikin jahiliyah yang menjadikanberhala-berhala, yang juga semula adalah orang-orang shalih. Semisal Lata, Uzza, Manata dan sebagainya. Karenanya, oleh Allah, ditegur. Namun,mereka mengelak, dengan mengatakan “Kami tidak menyembah mereka, hanyalah kiranya mereka itu dapat mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Q.s. Az- Zumar [39]: 3). Alasan yang selalu dibawa adalah firman Allah di surat Al- Maidah: “Wahai  orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) kepada- Nya, dan jihadlah kamu di jalan- Nya agar supaya kamu beruntung.” (Q.s. Al-Maidah [5]: 35). 

Padahal, semua ulama salaf, terutama para sahabat, menafsirkan wasilah itu ialah  man dan amal shalih.  Para sahabat yang lebih tahu tentang amaliah Rasulullah saw, tidak seorang pun memuja-muja kubur Rasulullah saw dan menjadikannya sebagai tempat bertawassul. Bahkan, kalau diamati mengapa jenazah Rasulullah saw oleh Aisyah ra dikubur  dalam kamarnya? Adalah karena khawatir kubur beliau akan dikultuskan, karena dalam akhir hayat, beliau berdoa: 
“Ya Allah, jangan  Engkau biarkan kuburku nanti dijadikan tempat berhari raya dan dijadikan tempat persembahan.” 
Pengkultusan seperti itu dikatakan merusak Islam, karena kultus individu seperti itu akan menjurus pada kesyirikan, sedang syirik adalah merusak Islam. Agama Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang dikatakan “tidak diakui Allah” (Q.s. Ali Imran [3]: 85). Karena agama ini adalah syirik, karena mengkultusksn  ‘Uzair dan Isa al-Masih, yang kemudian dikatakannya sebagai Anak Allah. Dan  usuh Islam, semisal Napoleon Bonaparte akan  menghancurkan Islam dengan cara seperti itu. Ketika dia dapat menginjakkan kakinya di Mesir, dan melihat fenomena seperti itu, lalu dia  merencanakan akan mendirikan bangunan-bangunan berkubah besar di pintu-pintu gerbang negara Islam, yang dikatakan bahwa di  bawahnya  terkubur seorang wali besar. Maka mereka akan berbondong-bondong ke situ untuk ngalap barokah, yang pada gilirannya, mereka akan tak  acuh     terhadap urusan keduniaan mereka.l bersambung 




Sabtu, 18 Oktober 2014

Manajemen Aksi Massa

Pengertian Aksi Massa
Aksi massa adalah suatu metode perjuangan yang mengandalkan kekuatan massa dalam menekan pemerintah/pengusaha untuk mencabut atau memberlakukan kebijakan yang tidak dikehendaki massa. Aksi massa merupakan bentuk perjuangan aktif dalam rangka merubah kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak massa, oleh karena aksi massa mengambil bentuk yang paling dekat dengan dinamika sosial yang berjalan dalam masyarakat.

Latar Belakang Psiko-Sosiologis Aksi Massa
Dorongan terpokok yang melahirkan aksi massa adalah keinginan massa akan perubahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa demonstrasi mahasiswa, aksi rakyat, dan gerakan lain dari kelompok kepentingan dalam rangka mewujudkan mimpi perubahan.
Manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan mendasar yang harus mendapatkan pemenuhannya. Secara sosiologis ada tiga kategori kebutuhan:
1.     Kebutuhan biologis/primer, yaitu kebutuhan manusia terhadap hal-hal yang berkaitan langsung dengan jasmani manusia. Tergolong kebutuhan ini adalah makanan dan minuman, pakaian, bernafas dan istirahat, dan lain-lain.
2.     Tergolong kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan yang mendukung terpenuhinya kebutuhan biologis/primer. Tergolong kedalam kebutuhan ini adalah pendidikan, rekreasi, komunikasi, hubungan sosial, dan lain-lain.
3.     Kebutuhan spiritual, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang menyangkut kerinduan manusia akan hal-hal yang bersifat kerohanian, supranatural, dan metafisik. Misalnya kebutuhan akan shalat, kebaktian, klenteng, dan lain-lain.
Setiap manusia memiliki ketiga jenis kebutuhan tersebut, karenanya dalam pemenuhannya harus diatur supaya tidak terjadi penumpukan dan benturan. Peraturan mutlak diperlukan untuk tujuan keseimbangan dalam masyarakat. Peraturan atau hukumlah yang menentukan batasan antara hak dan kewajiban antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Dalam kehidupan sosial pranata diperlukan untuk mengatur tata kehidupan antar manusia dalam masyarakat. Pranata sosial menjadi kebutuhan bersama dan karena itu pula harus disepakati bersama serta dilaksanakan secara konsisten secara bersama-sama pula.
Guna perngorganisasian sosial masyarakat, maka pembuatan, pelaksanaan dan penegakan hukum kemudian diserahkan pada lembaga yang disepakati. Di desa ada lurah dan LMD; di level daerah ada walikota/bupati dan DPRD Kota/Kabupaten; di tingkat provinsi ada gubernur dan DPRD Provinsi; di pusat dikendalikan oleh presiden dan MPR/DPR. Singkat kata, pelaksana dan penegakan hukum diserahkan ke institusi yang dianggap mewakili seluruh golongan dalam masyarakat. Proses pemilihan perwakilan rakyat dan pemimpin eksekutif pada institusi-institusi negara tersebut dalam kerangka demokrasi lazimnya disebut pemilihan umum.
Namun demikian, walaupun perwakilan yang duduk pada institusi (trias politika dalam istilah Montesqueu) dipilih rakyat, tidak mustahil dapat terhindar dari penyimpangan terhadap aturan-aturan, membuat aturan untuk kepentingannya sendiri dan kelompoknya, mempertahankan kelangsungan kekuasaan dan mempertahankan status quo. Kelemahan utama dari sistem demokrasi adalah fasifnya rakyat dalam kebijakan, seolah rakyat hanya terlibat dalam pemilihan umum semata. Kehilangan kepercayaan terhadap institusi pemerintah inilah yang menimbulkan jalan lain perjuangan aspirasi, yaitu jalan ekstra parlementer yang sering mengambil bentuk aksi massa atau demonstrasi.
Bentuk-Bentuk Aksi Massa
Aksi massa dikenal dalam berbagai bentuk sesuai dengan target dan sasaran aksi. Di lihat dari aktivitas, aksi massa dibedakan dalam dua bentuk, yaitu aksi aksi statis dan aksi dinamis. Aksi statis adalah aksi massa yang dilakukan pada satu titik tertentu dari awal hingga aksi berakhir. Aksi dinamis adalah aksi yang dimulai dari titik kumpul tertentu lalu berpindah sesuai dengan sasaran aksi.
  1. Rapat akbar
2.    Rally/long march
3.    Mimbar bebas
4.    Panggung kesenian, dll
Hampir tidak ada aksi massa yang berjalan spontan. Umumnya aksi massa dipersipkan secara matang, mulai dari kekuatan massa yang akan terlibat, perangkat aksi, isu dan tuntutan serta institusi yang dituju. Pada dasarnya aksi massa melalui tahapan sebagai berikut:
Persiapan
Gagasan untuk melakukan aksi massa biasanya lahir dari adanya syarat objektif bahwa isntitusi/lembaga berwenang tidak tanggap terhadap persoalan yang dihadapi rakyat. Oleh karena itu diperlukan adanya tekanan (pressure) massa untuk mendorong persoalan rakyat menjadi perdebatan luas dan terbuka di intra parlemen maupun dimuka pendapat umum (public opinion) di luar parlemen.
Semua hal yang berkaitan dengan tekanan mengandalkan kekuatan massa harus dipersiapkan sehingga dapat berjalan optimal. Persiapan aksi massa berjalan dalam lingkaran-lingkaran diskusi yang diorientasikan mampu memunculkan:
1.     Isu/tuntutan
Isu atau tuntutan yang akan diangkat dalam aksi massa harus dibicarakan dan diperdebatkan. Penentuan isu sangat penting karena akan memberi batasan gerak secara keseluruhan dari proses aksi massa di lapangan.
2.     Prakondisi aksi
Prakondisi aksi adalah aktivitas yang dilakukan sebelum aksi massa berlangsung. Pra kondisi tersebut biasanya dalam bentuk aksi penyebaran selebaran, penempelan poster, grafiti action, dst. Tujuan pra kondisi aksi adalah untuk mensosialisasikan rencana aksi massa beserta isu/tuntutannya, serta memanaskan situasi pada sasaran kampanye atau sasaran aksi.
3.     Perangkat aksi massa
Perangkat aksi adalah mbagian kerja partisipan aksi massa. Perangkat aksi massa disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya diperlukan perangkat sebagai berikut:
a.     Koordinator lapangan.
Korlap bertugas memimpin aksi di lapangan, berhak memberikan instruksi kepada peserta aksi/massa. Keputusan untuk memulai ataupun membubarkan/mengakhiri aksi massa ditentukan oleh korlap. Korlap hendaknya orang yang mempunyai kemampuan agitasi, propaganda, orasi dan komunikatif.
b.     Wakil koordinator lapangan.
Wakorlap adalah pembantu korlap di lapangan dan berfungsi sama dengan korlap.
c.     Divisi Acara
Divisi acara bertugas menyusun acara yang berlangsung pada saat aksi massa dan bertugas mengatur dan mengemas jalannya acara agar massa tidak jenuh.
d.     Orator. Orator adalah orang yang bertugas menyampaikan tuntutan-tuntutan aksi massa dalam bahasa orasi, serta menjadi agitator yang membakar semangat massa.
e.     Humas. Perangkat aksi yang bertugas menyebarkan seluas-luasnya perihal aksi massa kepada pihak-pihak berkepentingan, terutama pers.
f.      Negosiator, berfungsi sesuai dengan target dan sasaran aksi. Misalnya pendudukan gedung DPR/DPRD sementara target tersebut tidak dapat tercapai karena dihalangi aparat keamanan, maka negosiator dapat mendatangi komandannya dan melakukan negosiasi agar target aksi dapat tercapai. Karenanya seorang negosiator hendaknya memiliki kemampuan diplomasi.
g.     Mobilisator. Bertugas memobilisasi massa, menyerukan kepada massa untuk bergabung pada aksi massa yang akan digelar. Kerja mobilisasi massa berlangsung sebelum aksi dilaksanakan.
h.     Kurir. Berfungsi sebaga penghubung ketika sebuah aksi massa tidak bisa dipastikan hanya dimanfaatkan oleh satu komite aksi atau kelompok saja. Bisa jadi pada saat bersamaan komite aksi lainnya sedang menggelar aksi massa, menuju sasaran yang sama. Oleh karena karena itu untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman diperlukan fungsi kurir untuk menghubungkan kedua atau lebih komite aksi yang menggelar acara yang sama. Selain itu kurir juga berfungsi menjembatani komi aksi-komite aksi agar terjadi penyatuan massa atau aliansi taktis di lapangan. Dalam hal ini kurir bertugas memberikan laporan pada korlap perihal aksi massa yang dilakukan komite aksi lain.
i.      Advokasi. Perbenturan antara kedua massa dengan aparat keamanan perlu dihindari, akan tetapi jika hal itu terjadi dan berakhir dengan penangkapan terhadap aktivis massa diperlukan peran tim advokasi yang bertugas membela dan memberikan perlindungan hukum terhadap korban.
j.      Asisten teritorial/keamanan/sweaper/dinamisator lapangan. Sering terjadi aksi masa radikal menjadi aksi massa anarkis karena emosi terpancing untuk melakukan tindakan destruktif. Antisipasi, terhadap kecenderungan semacam ini dilakukan dengan melengkapi aksi massa dengan perangkat asisten teritorial (aster).
Aster atau disebut juga keamanan atau sweaper bertugas mencegah terjadinya penyusupan oleh pihak luar yang bertujuan memperkeruh suasana. Tugasnya mengamati kondisi massa. Selain itu juga aster berfungsi mengagitasi massa dengan yel-yel dan lagu-lagu perjuangan agar aksi massa tetap tampil semangat.

k.    Logistic dan medical rescue. Perangkat logistic bertugas menyediakan perlengkapan-perlengkapan fisik yang diperlukan dalam aksi massa seperti spanduk, poster, selebaran, pengeras suara, dan pernyataan sikap. Sedangkan medical rescue bertugas menyediakan obat-obatan dan memberikan bantan p3k terhadap masa yang kesehatan fisiknya terganggu ketika aksi massa berlangsung.
l.     Dokumentasi
Divisi ini bertugas mengabadikan penyelenggaraan aksi massa dalam bentuk gambar atau dalam bentuk tulisan kronologi.
m.  Sentral informasi
Sentral informasi adalah nomor telepon yang dijaga oleh seseorang yang bertugas mendapatkan dan memberikan informasi tentang kondisi masa, situasi lapangan, sampai dengan informasi-informasi lainya.
4.    Kelengkapan Aksi Massa.
selain kelengkapan struktur berupa perangkat aksi massa, dibutuhkan pula kelengkapan material yang berupa instrumen aksi massa.
Ø  Poster adalah kertas ukuran lebar yang bertuliskan tuntutan aksi massa dipermukaanya. Poster berisi tuntutan aksi yang ditulis tebal dengan spidol atau cat agar jelas dibaca oleh massa ditulis dengan singkat dan jelas.
Ø  Spanduk adalah bentangan kain yang ditulis tuntutan-tuntutan atau nama komite aksi yang sedang menggelar aksi massa.
Ø  Selebaran adalah lembaran kertas yang memuat informasi agitasi dan propaganda kepada massa yang lebih luas agar memberikan dukungan terhadap aksi massa.
Ø  Pengeras suara adalah perangkat keras elektronika yang berfungsi memperbesa suara.
Ø  Pernyataan sikap/statemen adalah pernyataan tertulis yang memberikan gambaran sikap massa terhadap satu kebijakan satu institusi/perorangan dibacakan dibagian akhir proses aksi massa. Penyusunannya dilakukan oleh humas atau dvisi logistik.
  1. Nama komite aksi
Aksi massa meskipun bersifat temporer, tetap membutuhkan nama sebagai identitas pelaksana kegiatan. Nama komite aksi harus ditentukan, baik melalui perdebatan pada saat persiapan aksi massa. Apalagi kalau aksi massa merupakan tindakan bersama dari beberapa kelompok/orgaisasi, nama komite mutlak dibutuhkan agar tidak terjadi klaim dan kesalahpahaman antar organisasi.
Nama awal komite aksi yang lazim dipakai untuk mengidentifikasi diri massa, sebagai berikut:
a.   Forum
b.   Front
c.    Barisan
d.   Persatuan
e.   Kesatuan
f.     Solidaritas
g.    Jaringan
h.   Aliansi
i.     Koalisi
j.    Gerakan
k.    Pergerakan
l.     Himpunan
m.  Serikat
n.   Komite
o.   Liga
p.   Gabungan
q.   Asosiasi
r.    Dewan...dsb
Semua nama diatas sebenarnya mempuyai hakekat yang satu bahwa komite aksi yang sedang menyelenggarakan aksi massa mempunyai basis massa yang solid, bersatu, maju, dan tidak dapat dpecah oleh kekuatan dari luar organisasi komite bersangkutan.
Namun demikian komite aksi yang profesional persoalan nama sudah tidak menjadi hal penting yang perlu dibicarakan apalagi diperdebatkan, karena hanya akan memakan waktu yang sia-sia saja. Beberapa organisasi yang namanya sudah populer dan mapan tak perlu merumuskan nama komite aksi karena hal yang demikian tidak lagi menjadi kebutuhan.
A.   Massa persiapan aksi Kehadiran massa dalam jumlah yang massif dalam aksi massa merupakan faktor yang menentukan keberhasilan aksi massa. Semakin besar kemampuan aksi suatu komite aksi dalam hal mobilisasi massa untuk memberikan support akan semakin memberikan kontribusi positif terhadap aksi massa. Maka pada tahap persiapan aksi massa dipersiapkan perangkat aksi/divisi khusus bekerja memobilisasi sebelum aksi berlangsung.
B.   Target aksi Target aksi adalah tujuan-tujuan minimal dan maksimal yang akan diraih dalam aksi massa tersebut. Misalnya aksi massa dengan target membangun persatuan dan solidaritas target mengkampanyekan isu/tuntutan, target memenangkan tuntutan dll.
C.   Sasaran dan waktu Mobilisasi massa akan diarahkan kemana senantiasa dibicarakan dalam pra aksi massa. Instansi atau lokasi yang dituju disesuaikan dengan isu isi tuntutan yang diangkat. Oleh karena itu ditentukan pula metode aksi massa yang diterapkan: rally dari satu titik awal menuju sasaran atau massa langsung memobilisasi kesasaran tujuan.

Sasaran aksi massa adalah institusi perwakilan rakyat atau institusi lain yang relevan dengan tuntutan massa . misalnya : tuntutan aksi massa tentang pencabutan dwi fungsi ABRI/TNI maka sasaran yang relevan untuk tuntutan tersebut adalah instansi militer.
Sedangkan waktu aksi ditentukan berdasarkan kebutuhan yang paling mungkin dengan segala pertimbangan seperi basis massa, sasaran aksi massa, jika basis massa direncanakan mahasiswa, maka aksi diselenggarakan pada hari libu mahasiswa, begitu pula dengan sasaran kantor-kantor pemerintah indonesia aktif dari senin hingga jumat dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 maka aksi tidak menarik jika dilaksanakan diluar waktu tersebut misalnya pada hari sabtu dan minggu dan tanggal merah lainya.momentum aksi massa yang jelas sangat menentukan. Aksi pada satu momentum bersejarah akan membuka kembali memori massa akan satu peristiwa yang tidak dihendaki terjadi oleh semua. Maka momentum dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a)   Momentum yang dibuat sendiri (ourself made momentum)
Momentum pengajuan tuntutan terhadap pemerintah untuk mencabut atau mengukuhkan kebijakan saat tertentu yang tidak ada basis materialnya pada massa lalu, bahwa pernah terjadi suatu peristiwa penting yang diketahui orang banyak pada hari atau tanggal yang bersangkutan.
b)   Momentum yang disediakan(privided momentum)
Yaitu saat penyelenggaraan aksi massa yang dipaskan dengan memperingati satu kejadian pada masa silam. Misalny aksi massa buruh pada tanggal 1 mei memperingati hari buruh sedunia.
Aksi massa yang dilaksanakan pada momentum yang disediakan ini akan dapat mengingatkan kembali massa luas kepada peristiwa yang tragis atau bahkan monumental yang pernah terjadi pada masa lalu.
           I.    Pelaksanaan aksi massa/ demonstrasi
Pada saat aksi massa dilakukan, segala tindakan massa di setting sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan para perangkat yang telah diberi tugas. Semua bekerja sesuai dengan tugas yang telah disepakati  bersama dalam persiapan sebelum aksi massa digelar.penyimpangan terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat bersama akan dikoreksi pada saat forum evaluasi diadakan.
         II.    Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari rangkaian aksi massa. Merupakan forum atau wadah tempat mengoreksi kesalahan-kesalahan atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dilapangan yang sebenarnya tidak sesuai dengan setting aksi massa yang telah disepakati bersama. Evaluasi ini berfungsi melahirka ide-ide baru yang dapat membagun struktur pemikiran alternatif terhadap pola aksi yang telah dilaksanakan oleh komite aksi.dialektika pola aksi massa justru dapat terungkap ketika evaluasi terhadap pelaksanaan aksi masa digelar.
Penutup
Aksi massa atau sering disebut demontsrasi telah marak di indonesia sejak periode akhir kejayaan rejim soeharto. Fenomena aksi massa ini tidaklah lahir secara spontanitas belaka, kemunculanya lebi dilatar belakangi oleh latar belakang sosiologis dan psikologis massa yang tidak puas terhadap keadaan sosial yang meligkupinya. Keadaan sosial tersebut disebabkan oleh sistem sosial, ekonomi, politik dan kompleksitas siste yang lain.

Publising : Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Comentar