Jumat, 11 November 2016

MANUSIA VISIONER

oleh : Agus Rahmat Nugraha
 (Waka III Staida Muhammadiyah  & Waka I Majdikdasmen PDM Garut)

Bayangkan hidup kita seperti pemain acrobat dengan lima bola di udara. Kita bisa menamai bola-bola itu dengan  sebutan: pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat. Kita harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu diantara lima bola tersebut, lepaskanlah “pekerjaan” karena pekerjaan adalah BOLA KARET. Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali. Namun empat bola lain seperti Keluarga, Kesehatan, Sahabat, dan Semangat adalah BOLA KACA. Jika Anda  menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal. Betul kita hidup harus secara seimbang. Dan pada kenyataanya, kita terlalu menjaga pekerjaan (bola karet). bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan, persahabatan, dan semangat demi menyelamatkan bola karet tersebut. Demi uang, pekerjaan, bahkan jabatan, kita seringkali mengabaikan kekuarga. Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita tidak memperhatikan kesehatan. demi uang, pekerajaan atau jabatan, kita rela menghancurkan hubungan dengan sahabat baik. Bukan pekerjaan tidak penting! tapi  jangan sampai uang atau pekerjaan menjadi “berhala” dalam hidup kita. Ingat, kalaupun kita kehilangan, uang selalu bisa dicari lagi. Tapi jika keluarga sudah “terjual”, kemana kita bisa membelinya lagi? Apakah kita bisa membeli sahabat? Apakah kesehatan bisa kembali normal, jika kita terkena penyakit kritis? Dan apa pula yang bisa kita perbuat saat-saat “semangat” sudah hilang sama sekali? (Diadaptasi dari tulisan Brian Dyson, mantan Chief Executive Officer/CEO Coca Cola).
Pesan penting dari tulisan diatas adalah, jangan sampai kita salah menempatkan prioritas dan kualitas hidup dan kehidupan. Manusia  sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah SWT menjadi dirinya yang paripurna saat mampu mengidentifikasi secara shahih siapa dirinya dan akan menuju kearah hidup seperti apa? sebab setiap manusia akan diuji terus hingga akhir hayatnya mengenai visi hidupnya ini. Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman: “yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.  Dan Dia Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S.Al-Mulk ayat 2).
Manusia visoner secara hakiki adalah manusia yang hidup dalam system yang terorganisir, terencana, sistemik, bertujuan, sekaligus fungsional. Manusia yang memahami pilihan untuk mampu menempatkan prioritas dan kualitas hidup adalah mereka yang memiliki strategic planning,  if you don’t think about the future, you won’t have one. Yakni manusia yang memiliki kekuatan jiwa (iman), kepekaan, serta kemampuan teknik yang mampu memimpin seluruh aktivitasnya dengan memanfaatkan sumberdaya dirinya yang dimanage secara baik, berupa aqal, qolbu, jism, dan nafsunya yang fungsional.
Hidup ini selalu memilih, dan setiap orang diharuskan setiap saat untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan untuk menjadi seperti apa kualitas hidup ini dibangun. Setiap hal yang dipilih senantiasa berbasis kesempatan untuk dimanfaatkan. Kesempatan datang dengan tiba-tiba dan perginya mendadak pula. Siapa yang berani menangkapnya, dia itulah yang menciptakan pekerjaan yang besar. Oleh karenanya menurut Binton R. Claark, manusia visoner setidaknya harus memiliki empat (4) nilai sandaran utama: pertama, kompetensi (dalam hal ini iman, ‘ilmu dan amal shaleh sebagai modalitas utamanya); kedua, peka secara social budaya dan jiwa melayani (social justice); ketiga, jiwa merdeka (liberty); dan keempat, pilihan terhadap sebuah  kesetiaan dan keberpihakan (loyality). Dengan sandaran utama ini, maka manusia memiliki cara pendang yang beprbeda atas pengalaman  hidup yang dijalaninya. Jika kita mulai memandang pengalaman dengan cara yang berbeda, berarti tearobosan yang penting  terjadi dalam kehidupan kita.
Dalam khazanah Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia visoner  teladan dengan dua (2) barometer utama, yakni : pertama, kejelasan visi-misi perjuangannya berupa rahmatan lil’alamin dan kedua, keteladanan utama berupa satunya kata dan perbuatan. Manusia visioner senantiasa membangun cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya cinta bersifat subjektif, yaitu untuk kepentingan yang mencintai, sedangkan kasih sayang bersifat objektif, yaitu untuk kepentingan yang disayangi (Azis Salam). Alhasil manusia visioner adalah manusia merdeka, mereka yang bisa menetapkan prioritas dan kualitas hidup dan kehidupannya secara bebas, leluasa dan tanpa tekanan. Jiwanya jembar (berjiwa besar), inklusif, sportif, egaliter, optimis, penuh rahmat-salam dan  sekaligus muthmainah (tenang): “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam Jemaah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam syurga Ku” (Q.S. Al-Fajr 27-30).
Manusia visoner berpikir bahwa hidup bukan sekedar untuk kini, saat ini, dan disini saja, melainkan ada yang dituju secara futuristic sejati, yakni keridhoan Allah SWT semata. Allah SWT berfirman: “Dan diantara manusia ada yang menjual dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya” (Q.S. Al-Baqarah:207). Dan manusia visioner pada gilirannya akan memperoleh beberapa keadaan kesejatiaan cinta dan kasih sayang berikut: pertama, sakana ilaihi (tenang kepadaNya); kedua, istijaro bihi (hanya meminta perlindungan kepadaNya); ketiga, ittaja ilaihi bi syaukin (hatinya menuju kesana dengan penuh kerinduan); dan keempat,  wuli’a bihi (gandrung kepadaNya).
Jika demikian, masihkah kita akan terus menerus ngotot, berebut dengan mengalalkan segala cara, saling tebas, dan saling bunuh hanya demi uang, pekerjaan, dan jabatan? Bukankah ada yang lebih berarti untuk hidup yang lebih bermakna (meaningfull life), yakni keluarga, kesehatan, persahabatan, dan semangat? masihkah mau mengejar sesuatu yang nisbi-sementara untuk megorbankan keridhoan Allah sebagai sesuatu yang hakiki-abadi abadan? akhirnya fainama tadhabun?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comentar