MANUSIA VISIONER
oleh : Agus Rahmat Nugraha
(Waka III Staida Muhammadiyah & Waka I Majdikdasmen PDM Garut)
Bayangkan hidup kita seperti pemain acrobat
dengan lima bola di udara. Kita bisa menamai bola-bola itu dengan sebutan: pekerjaan, keluarga, kesehatan,
sahabat, dan semangat. Kita harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan
jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan
salah satu diantara lima bola tersebut, lepaskanlah “pekerjaan” karena
pekerjaan adalah BOLA KARET. Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan
melambung kembali. Namun empat bola lain seperti Keluarga, Kesehatan, Sahabat,
dan Semangat adalah BOLA KACA. Jika Anda
menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal. Betul kita hidup harus
secara seimbang. Dan pada kenyataanya, kita terlalu menjaga pekerjaan (bola
karet). bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan, persahabatan, dan
semangat demi menyelamatkan bola karet tersebut. Demi uang, pekerjaan, bahkan
jabatan, kita seringkali mengabaikan kekuarga. Demi meraih sukses dalam
pekerjaan, kita tidak memperhatikan kesehatan. demi uang, pekerajaan atau
jabatan, kita rela menghancurkan hubungan dengan sahabat baik. Bukan pekerjaan
tidak penting! tapi jangan sampai uang
atau pekerjaan menjadi “berhala” dalam hidup kita. Ingat, kalaupun kita
kehilangan, uang selalu bisa dicari lagi. Tapi jika keluarga sudah “terjual”,
kemana kita bisa membelinya lagi? Apakah kita bisa membeli sahabat? Apakah
kesehatan bisa kembali normal, jika kita terkena penyakit kritis? Dan apa pula
yang bisa kita perbuat saat-saat “semangat” sudah hilang sama sekali?
(Diadaptasi dari tulisan Brian Dyson, mantan Chief Executive Officer/CEO Coca
Cola).
Pesan penting dari tulisan
diatas adalah, jangan sampai kita salah menempatkan prioritas dan kualitas
hidup dan kehidupan. Manusia sebagai
makhluk terbaik ciptaan Allah SWT menjadi dirinya yang paripurna saat mampu
mengidentifikasi secara shahih siapa dirinya dan akan menuju kearah hidup
seperti apa? sebab setiap manusia akan diuji terus hingga akhir hayatnya
mengenai visi hidupnya ini. Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman: “yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Perkasa lagi Maha Pengampun”
(Q.S.Al-Mulk ayat 2).
Manusia visoner secara hakiki
adalah manusia yang hidup dalam system yang terorganisir, terencana, sistemik,
bertujuan, sekaligus fungsional. Manusia yang memahami pilihan untuk mampu
menempatkan prioritas dan kualitas hidup adalah mereka yang memiliki strategic
planning, if you don’t think about the future, you won’t
have one. Yakni manusia yang memiliki kekuatan jiwa (iman), kepekaan, serta
kemampuan teknik yang mampu memimpin seluruh aktivitasnya dengan memanfaatkan
sumberdaya dirinya yang dimanage secara baik, berupa aqal, qolbu, jism, dan
nafsunya yang fungsional.
Hidup ini selalu memilih, dan
setiap orang diharuskan setiap saat untuk menentukan pilihan dan mengambil
keputusan untuk menjadi seperti apa kualitas hidup ini dibangun. Setiap hal
yang dipilih senantiasa berbasis kesempatan untuk dimanfaatkan. Kesempatan datang dengan tiba-tiba dan
perginya mendadak pula. Siapa yang berani menangkapnya, dia itulah yang
menciptakan pekerjaan yang besar. Oleh karenanya menurut Binton R. Claark,
manusia visoner setidaknya harus memiliki empat (4) nilai sandaran utama: pertama, kompetensi (dalam hal ini iman,
‘ilmu dan amal shaleh sebagai modalitas utamanya); kedua, peka secara social budaya dan jiwa melayani (social justice); ketiga, jiwa merdeka (liberty);
dan keempat, pilihan terhadap sebuah kesetiaan dan keberpihakan (loyality). Dengan sandaran utama ini,
maka manusia memiliki cara pendang yang beprbeda atas pengalaman hidup yang dijalaninya. Jika kita mulai memandang pengalaman dengan cara yang berbeda, berarti
tearobosan yang penting terjadi dalam
kehidupan kita.
Dalam khazanah Islam,
Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia visoner teladan dengan dua (2) barometer utama, yakni :
pertama, kejelasan visi-misi
perjuangannya berupa rahmatan lil’alamin
dan kedua, keteladanan utama berupa
satunya kata dan perbuatan. Manusia visioner senantiasa membangun cinta dan
kasih sayang. Sesungguhnya cinta bersifat
subjektif, yaitu untuk kepentingan yang mencintai, sedangkan kasih sayang
bersifat objektif, yaitu untuk kepentingan yang disayangi (Azis Salam). Alhasil
manusia visioner adalah manusia merdeka, mereka yang bisa menetapkan prioritas
dan kualitas hidup dan kehidupannya secara bebas, leluasa dan tanpa tekanan.
Jiwanya jembar (berjiwa besar), inklusif, sportif, egaliter, optimis, penuh
rahmat-salam dan sekaligus muthmainah (tenang): “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanu dengan hati yang puas
lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam Jemaah hamba-hambaKu, dan masuklah
kedalam syurga Ku” (Q.S. Al-Fajr 27-30).
Manusia visoner berpikir
bahwa hidup bukan sekedar untuk kini, saat ini, dan disini saja, melainkan ada
yang dituju secara futuristic sejati, yakni keridhoan Allah SWT semata. Allah
SWT berfirman: “Dan diantara manusia ada
yang menjual dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah Maha Penyantun
kepada hamba-hambaNya” (Q.S. Al-Baqarah:207). Dan manusia visioner pada
gilirannya akan memperoleh beberapa keadaan kesejatiaan cinta dan kasih sayang
berikut: pertama, sakana ilaihi
(tenang kepadaNya); kedua, istijaro bihi
(hanya meminta perlindungan kepadaNya);
ketiga, ittaja ilaihi bi syaukin (hatinya menuju kesana dengan penuh
kerinduan); dan keempat, wuli’a bihi (gandrung kepadaNya).
Jika demikian, masihkah kita
akan terus menerus ngotot, berebut dengan mengalalkan segala cara, saling
tebas, dan saling bunuh hanya demi uang, pekerjaan, dan jabatan? Bukankah ada
yang lebih berarti untuk hidup yang lebih bermakna (meaningfull life), yakni keluarga, kesehatan, persahabatan, dan
semangat? masihkah mau mengejar sesuatu yang nisbi-sementara untuk megorbankan
keridhoan Allah sebagai sesuatu yang hakiki-abadi abadan? akhirnya fainama tadhabun?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar