Agus Rahmat Nugraha, M.Pd, M.Ag
(Demisioner
DPD IMM JABAR, Wakil Ketua III STAIDA
Muhammadiyah Garut)
Tema
kesolehan adalah tema inti dari substansi ajaran islam. Islam adalah agama yang
mengkehendaki umatnya untuk senantiasa memiliki kesungguhan dalam berilmu dan
kesungguhan dalam beramal dengan keikhlasan sebagai ruhnya. Dan kesolehan ini
pula yang menjadi indikator dari berbagai keutamaan yang di ajarkan oleh
Al-Islam Ad-Dinul Haq. Adapun kejujuran, keterburukan, tanggung jawab dan
keadilan adalah irisan – irisan kesolehan yang terakumulasi secara melekat
dalam ciri baik dalam kesolehan individual maupun kesolehan jama’i
Kesolehan
menjadi sangat penting saat ini, manakala kesolehan sebagai tindak tanduk
kearifan seseorang atau kelompok yang terus berupaya melaksanakan nilai – nilai
agung ajaran agama dalam seluruh ruang dan waktu, kini sedang berhadapan dengan
kesolehan artifisal (kesolehan pura – pura, palsu dan munafik). Dan
secara faktual dalam tema ini telah terjadi degradasi nilai yang membabi buta
terhadap nilai kesolehan hakiki, yang dalam arti lain telah terjadi distorsi
besar – besaran terhadap nilai kemurnuian (otentitas) agama. Berbagai tindakan
kemunafikan semakin nyata dalam prilaku bangsa ini, misalnya orang baru jujur
jika ada atasan, disiplin jika di awasi, berdedikasi secara pamrih, bahakan
banyak pula yang melakukan kekerasan atas nama agama (kasus terorisme, perang
antar suku/daera), berebut “kekuasan” atas nama musyawarah, atas nama jubah
kontistusi, atas nama agama dan “penyelamatan”’ organisasi islam, bermewah –
mewahan atas anama agama (antara lain budaya kirim parsel, hedonisme berlebihan
dalam ucapan kematian, komersialisme dalam kegiatan “musyawarah”, dll) yang
pada akhirnya agama di ekspoitasi menjadi komersialisme agam, dan politisme
agama. Pernyataan yang mengugahkita, jika realitas sudah demikian, lalu di
manakah esensi islam sebagai rahmatanlil’alamin yang sebenarnya?
Pelaku
kesolehan pura-pura ini kini semakin efektif oleh dukungan media audio visual
yang kita saksikan setiap saat. Slah satu yang menonjol diantaranya adalah
tayangan dengan tajuk atas nama agama, atas nama rakyat, dan atas nama
konstitusi, padahal jika dikritisi didalamnya berisi tahayul, bid’ah, khurafat
baru, korup, budaya konsumerisme, liberalisme (penghayatan agama yang
sewenang-wenang) dan sejumlah contoh prilaku lain yang dapat menyesatkan umat
dan bangsa ini. Centang perenang dan perubahan dari kesolehan hakiki menjadi
kesolehanartifilasi ini adalah problem bangsa yang serius, sehingga leo
tolstoy, seorang pejuang rusia dalam the law of love and the law of violence
pernah menulis bahwa the principle cause of our bad sosial organization
is false belifef (poko buruknya organisasi sosial kita adalah ke imanan
yang palsu atau kemunafikan)
Dan
yang paling gawat dari semua ini adalah kekurangansadaran umat islam dalam
memahami prilaku-prilaku artifilasi ini, terutama karena buaian kesenangan
duniawi yang menipunya dan tanpa di sadari umat islam telah terasing dari
nilai- nilai hakiki, dan dalam diri umat terjadi split personality
(keterbelahan, schizoperenia) keyakinan dimana hanya ibadah mahdoh (ibadah
langsung) sajalah sebagai urusan agama ini, sementara yang lain (ghoero mahdoh/
muamalah duniawiyah) di anggap sebagai urusan duniawi semata dengan dalih
budaya, seni, politik praktis, modernisme dan globalisasi.
Sinyalemen
tentang kuatnya kesolehan artifisal ini pernah di prediksi oleh Rasulullah SAW.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaki, rasulullah Saw Bersabda : “akan datang suatu
zaman, islam tinggal di mana saja la yabqa minal islami illa ismuhu,
Al-Quran tinggal tulisannya saja la yabqu minal qurani illa rasmuhu,
masjid berdiri megah di mana-mana tapi kosong dari petunjuk (masajidahum
amiratunwahiya harabunminal hadyi), dan ulama – ulama cendikiawan yang lahir
erupakan manusia yang jelek di muka bumi ini (ulamahum syarru man tahta ‘adimis
samai’). Sedangkan konsekuensi logis dari itu semua adalah akan timbul bermacan
fitnah yang berbaris menyerang umat ini secara keseluruhan. Inilah akibat yang
akan muncul seandainya kesolehan yang di bangun secara artifisal (pura-pura
atau palsu atau munafik atau formalistik), dan kosong dari makana asasinya.
Oleh karena itu yang harus kita jaga secara individual adalah membangun syistem
hidup islami yang di mulai dari niyyt (motivasi), kayfiat (tata
cara) dan ghoyyat a’liyah (cita-cita tertinggi) dalam setiap gerak langkah,
sebagai ciri keterujian keimanan (QS.29:2) menuju kesolehan pribadi yang
hakiki, mumpunu dan dapat dipertanggungjawabkan. Kesolehan hakiki model ini
adalah langkah awal (starting of point) untuk membangun kesolehan jama’i
menuju khoeru ummat (QS.30:30) sebagaipuncak kesolehan yang utama (setting
goal)
Islam adalah agama yang memiliki energi pembebasan, yang senantiasa dapat membebaskan umat manusia dari berbagai prilaku berpura-pura tindakan ‘seolah-olah’ dan amal ‘asal-asalan’ serta sekaligus menjadi solusi dari berbagai prilaku artifisal menuju prilaku hakiki sebagaimana fitrah hanif (lurus dan memihak kepada Allah, yakni fitrah asasi yang di miliki oleh seluruh manusia (QS.30:30) marilah kita maknai hakikat perbedaan antara alat, toold, means dengan mana tujuan end. Sehingga kita tidak di perbudak jabatn. Di jajah oleh harta, dan tidak pula di permainkan oleh kebodohan kita sendiri. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar